Harga Migas Meroket, Pemerintah Diingatkan Jangan Sampai Kalah dari Mafia Impor - Telusur

Harga Migas Meroket, Pemerintah Diingatkan Jangan Sampai Kalah dari Mafia Impor


telusur.co.id - Pemerintah harus melakukan evaluasi kebijakan perkilangan bahan bakar minyak (BBM), agar ada jaminan yang memadai bahwa kejadian kebakaran kilang minyak Pertamina RU (refinary unit) di Balikpapan, Kalimantan Timur, tidak terulang di masa depan. Pemerintah juga harus memastikan bahwa operator migas menjalankan kebijakan secara benar. 

"Kita tidak bisa menyerahkan 'cek kosong' kebijakan perkilangan kepada operator migas begitu saja. Karena terbukti dalam satu tahun terakhir ini sudah ada 4 kejadian kebakaran kilang BBM dan dua kali terjadi di tempat yang sama (Kilang Cilacap)," kata anggota Komisi VII DPR, Mulyanto, kepada wartawan, Selasa (8/3/22). 

Mulyanto menyayangkan, dalam waktu hampir 25 tahun sejak pengoperasian RU (Refinery Unit) VII Kasim di Papua pada tahun 1997, praktis Indonesia tidak membangun kilang baru.

Karenanya, Ia menegaskan, kasus ini bukan hanya terkait soal perawatan kilang dan penjagaan asset strategis nasional, namun lebih jauh ialah mengenai ketahanan energi nasional.  

Dia lantas mengutip data BPS tahun 2021 yang menunjukkan bahwa impor migas menyebabkan defisit transaksi berjalan sektor migas sebesar USD 13 milyar. 

Dengan meletusnya Perang Rusia-Ukraina, harga migas terus melonjak menembus angka USD 140 per barel. Maka dapat diperkirakan, bahwa defisit transaksi berjalan ini akan ikut tertekan.

"Karenanya, kita tidak ingin kasus kebakaran kilang yang terjadi akhir-akhir ini, serta lambatnya pembangunan kilang baru menjadi modus pembenaran impor BBM dan membiarkan defisit transaksi berjalan sektor migas terus membengkak. Ini sangat membahayakan ketahanan energi nasional kita," ucapnya. 

Untuk itu, politikus PKS ini meminta Pemerintah serius menangani pengelolaan kilang minyak. "Dengan melonjaknya harga migas dunia, soal ini semakin kritis. Pemerintah tidak boleh kalah dari mafia impor migas," tegas Mulyanto. 

Sebagai informasi, kilang RU V Balikpapan dibangun tepat seratus tahun lalu, yakni tahun 1922 dengan kapasitas 266.000 bph (barel per hari) atau sebesar 30% dari total produksi kilang pertamina. Ini adalah kilang terbesar ketiga setelah Kilang Cepu dan Kilang RU IV Cilacap.

Hari ini dengan total 6 buah kilang yang ada, Pertamina mampu menghasilkan BBM sebanyak 850 – 950 ribu bph. Dengan kebutuhan BBM yang sebesar 1.6 juta barel, maka praktis kekurangannya sebesar 800 ribu bph dipenuhi dari impor.[Fhr


Tinggalkan Komentar