Hati-hati Konsumsi Obat Herbal Saat Mudik ‎ - Telusur

Hati-hati Konsumsi Obat Herbal Saat Mudik ‎

Ilustrasi

telusur.co.id - Tradisi mudik Lebaran selalu diwarnai dengan antusiasme masyarakat untuk pulang ke kampung halaman. Perjalanan darat yang memakan waktu belasan hingga puluhan jam seringkali membuat kondisi fisik menurun. Sebagai solusi instan, obat herbal masuk angin menjadi “teman setia” para pemudik. Sayangnya, kebiasaan mengonsumsi obat ini secara berlebihan tanpa memperhatikan dosis justru menyimpan bahaya serius.

‎Keresahan ini bermula dari keluhan sejumlah netizen di media sosial, khususnya penderita Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), yang mengalami rasa sakit luar biasa setelah mengonsumsi produk tersebut.

“Buset, rasanya kayak mau nggak ada aja. Sakit sekali,” tulis pengguna TikTok @mukenxprvqo. Keluhan ini memicu perdebatan panjang mengenai keamanan eugenol, senyawa utama dalam ekstrak daun cengkeh yang menjadi bahan dasar obat herbal tersebut.

‎Berdasarkan standar WHO, batas aman konsumsi eugenol adalah 2,5 mg per kilogram berat badan. Untuk orang dewasa dengan berat rata-rata 60-70 kg, batas amannya berkisar antara 150-175 mg per hari. 

Masalahnya, satu sachet obat herbal populer mengandung 567 mg ekstrak daun cengkeh. Jika konsumen mengikuti anjuran minum 3-4 sachet sehari, total ekstrak yang masuk bisa mencapai 2.268 mg.

‎Dalam situasi normal, mungkin seseorang hanya mengonsumsi satu sachet. Namun, pada periode liburan Lebaran, intensitas konsumsi ini berpotensi melonjak drastis. Pemudik yang kelelahan, masuk angin karena AC kendaraan, atau mabuk perjalanan cenderung meminum obat ini berulang kali dalam sehari. Tanpa disadari, mereka telah melampaui batas aman konsumsi eugenol harian.

‎Menariknya, potensi bahaya konsumsi berlebihan ini justru tersirat dari edukasi yang disampaikan oleh influencer kesehatan. 

Apoteker Ariq Muthohhar (@AriqMuthohhar), dalam seri edukasinya di platform X pada 16 Februari 2026, menyebutkan bahwa dosis resmi untuk dewasa adalah “3-4 sachet per hari jika masuk angin atau diare”.

 Ia juga memperingatkan konsumen untuk “Stop 2 minggu sebelum operasi (efek antikoagulan ringan eugenol)”.

‎Pernyataan Ariq ini secara tidak langsung mengonfirmasi bahwa eugenol bukanlah sekadar “bumbu masak” biasa, melainkan zat bioaktif kuat yang memiliki efek farmakologis signifikan.

Jika eugenol memiliki efek antikoagulan (pengencer darah) yang mengharuskan penghentian konsumsi sebelum operasi, maka konsumsi 3-4 sachet per hari selama periode mudik Lebaran yang bisa berlangsung 1-2 minggu jelas membawa risiko akumulasi yang tidak bisa diabaikan.

‎Eugenol memiliki sifat paradoks yang mematikan. Pada dosis rendah, zat ini memang melindungi lambung. Namun, pada dosis tinggi, eugenol berbalik menjadi iritan yang memperburuk luka lambung dan merusak jaringan. Hal ini menjelaskan mengapa penderita GERD merasakan sakit yang tak tertahankan. Kondisi lambung mereka yang sudah rentan tidak mampu menoleransi efek iritan dari dosis eugenol yang terakumulasi.

‎Sayangnya, kemasan produk tidak mencantumkan berapa persentase eugenol murni di dalam ekstrak tersebut. Celah ketiadaan transparansi ini, ditambah dengan narasi influencer yang lebih fokus pada “keamanan karena sudah diregulasi BPOM” daripada peringatan durasi konsumsi jangka panjang, membuat konsumen bertaruh dengan kesehatan mereka sendiri. 

Ariq memang menekankan “Eugenol aman di dosis rendah”, namun tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan “dosis rendah” dalam konteks konsumsi selama 1-2 minggu berturut-turut.

‎Di tengah euforia Lebaran, masyarakat dituntut untuk lebih bijak dan kritis. Mengandalkan obat herbal sebagai solusi instan kelelahan mudik bukanlah pilihan yang sepenuhnya aman jika dikonsumsi tanpa batasan. 

Otoritas kesehatan perlu lebih proaktif memberikan edukasi menjelang musim mudik. Peringatan mengenai batas aman konsumsi dan risiko akumulasi dosis harus disosialisasikan secara masif. Keselamatan perjalanan harus dibarengi dengan kewaspadaan terhadap apa yang kita konsumsi. Jangan sampai niat untuk sehat justru berujung pada petaka di hari raya.[Nug] 


Tinggalkan Komentar