telusur.co.id - Ketegangan geopolitik kembali memanas. Komandan Markas Besar Khatam al-Anbia Iran, Ali Abdollahi, melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait kebijakan blokade angkatan laut yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Dilansir kantor berita Tasnim, Abdollahi menegaskan bahwa jika blokade terus berlanjut, Iran tidak akan tinggal diam. Bahkan, ia mengancam akan menghentikan seluruh aktivitas ekspor dan impor di jalur-jalur strategis dunia, termasuk Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah.
“Jika tindakan ilegal ini terus dilakukan, maka Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan aktivitas perdagangan apa pun berlangsung di kawasan tersebut,” tegasnya.
Situasi ini berakar dari konflik besar yang pecah sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran pasca terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah komandan militernya. Serangan tersebut memicu balasan besar-besaran dari Iran selama 40 hari, yang menyasar aset militer AS dan Israel.
Upaya meredakan konflik sempat muncul lewat gencatan senjata dua pekan yang disepakati pada 8 April. Negosiasi pun digelar di Islamabad, dengan Iran mengajukan proposal 10 poin, termasuk penarikan pasukan AS dan pencabutan sanksi.
Namun, harapan damai kandas. Setelah 21 jam pembicaraan intensif, delegasi Iran pulang ke Teheran tanpa kesepakatan, menyebut minimnya kepercayaan terhadap komitmen AS sebagai penyebab utama.
Di tengah kebuntuan tersebut, mantan Presiden AS, Donald Trump, justru memperkeruh keadaan dengan mengumumkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi minyak global. Langkah ini diklaim untuk mencegat kapal-kapal yang membayar bea masuk kepada Iran.
Militer AS pun mengonfirmasi bahwa blokade telah dimulai sejak awal pekan ini, memperbesar potensi eskalasi konflik yang kini tak hanya berdampak regional, tetapi juga mengancam stabilitas perdagangan dan energi dunia.



