Iran Desak AS dan Israel Diadili, Konflik Memanas Meski Ada Upaya Gencatan Senjata - Telusur

Iran Desak AS dan Israel Diadili, Konflik Memanas Meski Ada Upaya Gencatan Senjata

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei

telusur.co.id - Pemerintah Iran menyerukan agar Amerika Serikat dan Israel dimintai pertanggungjawaban atas pembunuhan para pemimpin Iran, yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hanya persoalan bilateral, melainkan isu global yang menyangkut perdamaian dunia.

“Apa yang dilakukan AS dan Israel adalah kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan internasional, termasuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” tegas Baqaei dalam pernyataannya seperti dilansir kantor berita Tasnim, KAmis (16/4/2026).

Ia juga menyoroti kewajiban seluruh negara berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 untuk menegakkan hukum humaniter internasional. Menurutnya, pelanggaran yang terjadi harus direspons secara kolektif oleh komunitas global, termasuk negara-negara anggota PBB.

Ketegangan meningkat tajam sejak peristiwa 28 Februari, ketika terbunuhnya tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei, memicu eskalasi konflik besar. Iran menuding AS dan Israel berada di balik serangan tersebut.

Sebagai balasan, militer Iran melancarkan serangan selama 40 hari terhadap target militer AS dan Israel di kawasan. Aksi ini menyebabkan kerusakan signifikan dan menggagalkan ekspektasi kemenangan cepat, sekaligus memperpanjang konflik.

Upaya meredakan situasi sempat dilakukan melalui gencatan senjata dua minggu yang dimulai 8 April, dengan mediasi di Islamabad, Pakistan. Dalam perundingan tersebut, Iran mengajukan sejumlah tuntutan, termasuk penarikan pasukan AS, pencabutan sanksi, dan pengendalian atas Selat Hormuz yang strategis.

Namun, setelah 21 jam negosiasi intensif, pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan. Delegasi Iran menyatakan kurangnya kepercayaan terhadap komitmen AS sebagai salah satu penyebab utama kegagalan diplomasi.

Situasi ini menunjukkan konflik masih jauh dari kata selesai. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, tekanan internasional untuk mencapai solusi damai


Tinggalkan Komentar