telusur.co.id - Pemerintah Iran menegaskan bahwa peluang pembicaraan untuk mengakhiri konflik sangat bergantung pada komitmen nyata Amerika Serikat dalam menjalankan gencatan senjata di seluruh lini, khususnya di Lebanon.
Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers pada Kamis (9/4/2026). Ia mengutuk keras tindakan yang dilakukan oleh rezim Zionis di Lebanon serta menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga yang terdampak.
Dilansir melalui kantor berita Tasnim, Baqaei memuji ketahanan rakyat Lebanon dalam menghadapi serangan, serta menyoroti kuatnya solidaritas antara rakyat Iran dan Lebanon. “Solidaritas dan simpati antara rakyat Iran dan Lebanon kini lebih besar daripada kapan pun dalam sejarah,” ujarnya.
Terkait upaya gencatan senjata, Baqaei menjelaskan bahwa penghentian perang di Lebanon merupakan bagian penting dari proposal yang diajukan oleh Pakistan. Ia menegaskan bahwa Washington telah berkomitmen untuk menghentikan konflik di semua front, dan setiap pelanggaran terhadap komitmen tersebut akan menunjukkan ketidakpatuhan.
“Setiap tindakan yang bertentangan dengan komitmen ini sama saja dengan Amerika Serikat tidak mematuhi kewajibannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Baqaei mengungkapkan bahwa Pakistan telah mengundang kedua pihak untuk menggelar pembicaraan di Islamabad. Namun, ia menekankan bahwa keikutsertaan Iran masih bergantung pada jaminan pelaksanaan penuh gencatan senjata oleh AS.
“Penyelenggaraan pembicaraan apa pun bergantung pada jaminan pemenuhan kewajiban AS terkait gencatan senjata di semua lini,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa komposisi delegasi Iran akan diumumkan setelah rencana perjalanan resmi dikonfirmasi.
Ketegangan kawasan meningkat sejak serangan besar yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran, yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui operasi militer terhadap target-target di kawasan. Situasi tersebut mendorong mediasi Pakistan yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata sementara selama dua minggu.
Iran turut mengajukan proposal sepuluh poin sebagai dasar negosiasi, termasuk penarikan pasukan AS dari kawasan, pencabutan sanksi, serta pengaturan kontrol atas Selat Hormuz.
Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada 8 April menyatakan bahwa konflik tersebut berujung pada “kemenangan bersejarah” bagi Iran, yang disebut berhasil memaksa AS menerima kerangka negosiasi, termasuk jaminan non-agresi.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa jalur diplomasi bukan akhir dari konflik, melainkan kelanjutan dari persaingan dalam bentuk lain, dengan sikap kewaspadaan tinggi terhadap komitmen Amerika Serikat.



