telusur.co.id - Panglima Angkatan Darat Iran, Mayor Jenderal Amir Hatami, menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel telah gagal total mencapai tujuan strategis mereka dalam dua konflik terakhir melawan Republik Islam Iran.

Dalam sebuah upacara di Teheran, Selasa (16/6/2026), Hatami mengatakan bahwa berbagai upaya yang dilakukan Washington dan Tel Aviv untuk memaksa Iran menyerah hingga mengganti sistem pemerintahan negara tersebut tidak membuahkan hasil.

"Musuh secara terbuka menyatakan ingin memaksa Iran menyerah, menghancurkan Republik Islam, bahkan berbicara tanpa malu-malu tentang mengubah peta Iran. Namun hari ini dunia menyaksikan bahwa tidak satu pun dari tujuan tersebut tercapai," ujar Hatami.

Pernyataan itu disampaikan sehari setelah Iran dan AS mengumumkan kesepakatan sementara guna mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Menurut Hatami, serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari menargetkan sejumlah fasilitas penting Iran, termasuk fasilitas nuklir, sekolah, rumah sakit, hingga kepemimpinan tertinggi negara tersebut.

Ia mengklaim bahwa pihak lawan meyakini serangan tersebut akan mampu mengubah struktur pemerintahan Iran. Namun, Teheran justru merespons dengan lebih dari 100 gelombang serangan balasan dalam Operasi True Promise 4.

Hatami juga mengingatkan perang 12 hari yang terjadi pada Juni 2025. Menurutnya, konflik tersebut berakhir dengan permintaan gencatan senjata dari pihak musuh.

"Bangsa Iran tidak hanya menolak untuk menyerah, tetapi telah menunjukkan bahwa kehendaknya dapat dipaksakan kepada musuh," katanya.

Panglima Angkatan Darat Iran itu menilai salah satu kesalahan terbesar AS dan Israel adalah salah memperhitungkan ketahanan rakyat Iran.

"Perang ini menunjukkan bahwa musuh berpikir keliru. Salah satu kesalahan mereka adalah penilaian yang salah terhadap rakyat Iran," ujarnya.

Hatami menegaskan kemenangan yang diklaim Iran tersebut akan diperkuat melalui peningkatan kemampuan pertahanan dan daya tangkal militer. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar tidak ada pihak yang berani melancarkan ancaman terhadap wilayah Iran di masa mendatang.

Pernyataan keras Amir Hatami tersebut menandai masih tingginya ketegangan antara Iran dengan AS dan Israel, meski kesepakatan sementara untuk menghentikan konflik telah diumumkan.