telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa proses negosiasi dengan Iran akan dimulai pada Senin, 3 Agustus. Pembicaraan tersebut diperkirakan berlangsung melalui jalur tidak langsung dengan melibatkan pihak perantara, sebagai bagian dari upaya meredakan ketegangan yang meningkat di Timur Tengah.
Berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, Trump mengatakan pemerintahannya memilih mengedepankan diplomasi dibandingkan aksi militer yang berpotensi menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar.
"Kami sedang berbicara dengan mereka dalam bentuk negosiasi. Itu dimulai besok sore dan kita akan melihat bagaimana hasilnya. Saya lebih memilih membuat kesepakatan. Saya tidak ingin membunuh orang karena banyak orang akan mati, dan kami tidak menginginkan itu," ujar Trump.
Trump mengungkapkan bahwa keputusan menunda operasi militer yang sebelumnya disebut sebagai "serangan besar-besaran" pada Jumat lalu diambil setelah serangkaian pembicaraan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, serta Iran.
Menurutnya, komunikasi dengan negara-negara tersebut membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomatik sehingga langkah militer untuk sementara tidak dilanjutkan.
Presiden AS itu juga menyebut terdapat peluang tercapainya kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Selain itu, Trump mengatakan pembahasan juga akan mencakup isu program nuklir Iran, dengan harapan dapat menghasilkan kesepakatan terkait denuklirisasi yang mampu menurunkan ketegangan di kawasan.
Meski demikian, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai format perundingan, siapa yang akan menjadi mediator, maupun tanggapan resmi dari pemerintah Iran terkait jadwal negosiasi tersebut. Keberhasilan pembicaraan ini dipandang akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan Washington dan Teheran serta stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa waktu ke depan.



