telusur.co.id - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melaporkan bahwa lebih dari 650 personel militer Amerika Serikat (AS) tewas atau terluka dalam dua hari pertama operasi pembalasan Iran.
Juru Bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan, serangan-serangan yang mencakup rudal dan pesawat tak berawak terhadap aset angkatan laut AS dan markas militer di Bahrain, memaksa kapal induk USS Abraham Lincoln mundur alias kabur dari perairan pesisir Iran. Akibat serangan Iran tersebut telah menimbulkan kerugian besar pada instalasi militer AS di wilayah Teluk Persia.
“Dalam dua hari pertama perang, 650 tentara Amerika tewas atau terluka,” kata Jenderal Naeini, dikutip dari Tasnim News Agency, Selasa (3/3/2026),
Dia menambahkan bahwa “wajar jika Amerika menyangkal atau menyembunyikan korban jiwa ini,” tetapi menekankan bahwa intelijen Iran dan laporan medan perang telah mengkonfirmasi jumlah korban tersebut.
Naeini menjelaskan bahwa rudal dan drone Iran telah berulang kali menyerang markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Dalam salah satu serangan, katanya, 160 personel AS tewas atau terluka ketika pasukan Iran menargetkan fasilitas militer AS yang penting di negara tersebut. Selain itu, kapal pendukung tempur MST Angkatan Laut AS mengalami kerusakan parah setelah terkena rudal angkatan laut Iran.
Naeini mengungkapkan bahwa pasukan angkatan laut Iran telah meluncurkan empat rudal jelajah ke USS Abraham Lincoln, yang berada sekitar 250 hingga 300 kilometer di lepas pantai Chabahar di Iran tenggara. Setelah serangan itu, kata Naeini, kapal induk tersebut "melarikan diri ke arah Samudra Hindia bagian tenggara."
Operasi "True Promise 4" menandai respons signifikan pasukan Iran terhadap agresi berkelanjutan rezim Zionis dan AS. [Nug]



