telusur.co.id - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan tiga fase yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai bagian dari gelombang ke-23 Operasi Nasr 2.
Dikutip dari IRNA, dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin, IRGC menyebut operasi tersebut dilakukan secara terkoordinasi menggunakan rudal dan drone sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai agresi militer Amerika Serikat terhadap Iran.
Menurut klaim IRGC, fase pertama operasi menyasar hanggar perawatan dan penyimpanan drone milik pasukan AS di Pangkalan Udara Al-Sakhir, Bahrain. Fasilitas tersebut diklaim mengalami kehancuran total akibat serangan.
Pada fase kedua, IRGC menyatakan telah menghantam hanggar persiapan kapal Task Force 59 (TF-59) di Pelabuhan Salman, Bahrain. Serangan itu diklaim menyebabkan kerusakan besar pada fasilitas pendukung dan kapal-kapal yang berada di lokasi.
Sementara itu, fase ketiga disebut menargetkan hanggar pendukung serta peralatan yang digunakan pasukan khusus US Navy SEAL di Pangkalan Arifjan, Kuwait. IRGC mengklaim seluruh fasilitas yang menjadi sasaran berhasil dihancurkan.
Dalam pernyataannya, IRGC menegaskan bahwa operasi militer tersebut merupakan bagian dari aksi balasan yang akan terus berlanjut. "Serangan-serangan dahsyat ini, yang dilakukan melalui gelombang rudal dan drone, akan terus berlanjut sebagai pembalasan atas agresi militer Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan IRGC.
Selain mengumumkan operasi militer, IRGC juga melontarkan kritik keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pasukan elite Iran itu menuding Trump tidak memahami kondisi kawasan dan meremehkan kemampuan militer Iran.
IRGC juga menanggapi pernyataan Trump yang sebelumnya mengklaim Iran mulai kehabisan persediaan rudal dan drone. "Semalam, presiden AS yang bodoh itu sekali lagi memperlihatkan ketidaktahuan dan kebodohannya dengan mengklaim bahwa Iran kehabisan rudal dan drone," tulis IRGC dalam pernyataannya.
IRGC menegaskan bahwa apabila konflik terus berlanjut, Iran mengaku siap mempertahankan operasi militernya dalam jangka panjang. "Jika perang ini berlangsung selama bertahun-tahun, rudal dan drone kami akan terus menghujani para penjahat Amerika hingga hari terakhir," tegas IRGC.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun otoritas Bahrain dan Kuwait yang mengonfirmasi klaim serangan maupun tingkat kerusakan yang disebutkan oleh IRGC. Informasi mengenai dampak operasi tersebut masih belum dapat diverifikasi secara independen.



