telusur.co.id - Pelanggaran gencatan senjata Israel di Lebanon selatan kembali terjadi ketika pasukan pendudukan menggunakan drone untuk menyiarkan ancaman dan menembakkan senapan mesin di dekat posisi Tentara Lebanon di daerah perbatasan Mazraat Sarda.
Koresponden Al Mayadeen melaporkan bahwa drone Israel terbang rendah di wilayah Sarda–Marjayoun sambil menyebarkan peringatan yang ditujukan untuk memaksa tentara Lebanon mundur dari pos mereka. Tembakan di sekitarnya menambah ketegangan di sepanjang garis perbatasan selatan.
Tentara Lebanon sebelumnya mengonfirmasi bahwa drone dan tembakan itu dimaksudkan untuk menekan personel mereka agar meninggalkan pos pengamatan yang sedang dibangun di Sarda–Marjayoun. Menanggapi insiden ini, Komando Angkatan Darat segera mengerahkan bala bantuan, menginstruksikan pasukan tetap berada di posisi, dan menanggapi sumber tembakan. Situasi dipantau bersama Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) dan komite pengawas perjanjian penghentian permusuhan.
Insiden ini menjadi bagian dari pelanggaran gencatan senjata Israel yang berkelanjutan sejak perjanjian 27 November 2024, dan juga melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006) yang menuntut penghormatan terhadap kedaulatan dan stabilitas Lebanon di sepanjang Garis Biru.
Latar belakang eskalasi ini terkait dengan kebijakan Israel yang diumumkan pada 19 Februari, di mana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Israel tidak akan menarik diri dari “zona penyangga” di Lebanon selatan dan Suriah, bahkan berniat memperluasnya. Sejak perjanjian gencatan senjata, pasukan Israel mempertahankan lima posisi strategis di ketinggian Lebanon selatan, memberikan pandangan langsung ke kota-kota sipil seperti Maroun al-Ras, Aita al-Shaab, Bint Jbeil, Ramyah, dan Blida.
Meskipun ada keberatan dari pemerintah Lebanon dan perhatian UNIFIL, Israel memperkuat pos-pos tersebut dengan pekerjaan tanah, tanggul, sistem pengawasan, dan jalan akses sepanjang tahun 2025. Insiden terbaru ini menambah kekhawatiran Lebanon bahwa doktrin “zona penyangga” yang diperluas Israel bisa berubah menjadi tekanan militer langsung terhadap posisi Angkatan Darat Lebanon. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, namun ketegangan dan risiko eskalasi tetap tinggi. [ham]



