telusur.co.id - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjajaki penguatan kolaborasi bersama Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dalam upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan manuskrip Nusantara sebagai bagian strategis pemajuan kebudayaan nasional.
Audiensi yang berlangsung di Jakarta tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama untuk menjaga manuskrip Nusantara sebagai sumber pengetahuan sekaligus warisan budaya bangsa yang bernilai tinggi.
Manassa, organisasi profesi pernaskahan yang berdiri pada 5 Juli 1996 dan didirikan oleh almarhumah Prof. Ikah Halil, menghimpun akademisi, peneliti, pemilik, serta pemerhati manuskrip Nusantara. Organisasi ini berfokus pada penelusuran, penelitian, pemeliharaan, pelestarian, dan pemanfaatan manuskrip sesuai amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Dalam pertemuan tersebut, Manassa mengusulkan sejumlah program strategis untuk dikolaborasikan, salah satunya pengembangan sertifikasi kompetensi pernaskahan. Program ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan daerah terhadap tenaga filolog dan tenaga teknis yang memiliki standar kompetensi dalam penanganan manuskrip, sekaligus mendukung kerja Tim Ahli Cagar Budaya di berbagai wilayah.
Menteri Fadli Zon menyampaikan dukungan terhadap inisiatif yang berkontribusi pada pelestarian manuskrip Nusantara. Ia menyebut dukungan dapat diberikan melalui berbagai skema, termasuk pemanfaatan Dana Indonesiana oleh komunitas pernaskahan di daerah.
Selain itu, Menbud menekankan pentingnya pembangunan basis data manuskrip yang kuat dan terintegrasi. Menurutnya, digitalisasi dan ketersediaan data yang sistematis akan mempermudah pelindungan sekaligus membuka peluang pemanfaatan manuskrip untuk kepentingan literasi dan pengembangan ilmu pengetahuan kebudayaan.
Fadli Zon memperkirakan terdapat sekitar 150 ribu manuskrip di Indonesia, yang sebagian besar masih memerlukan inventarisasi dan pelestarian lebih lanjut. Banyak manuskrip tersimpan di masyarakat dengan perawatan tradisional yang relatif baik, namun tetap menghadapi ancaman kerusakan akibat hama maupun risiko bencana alam. Ia menegaskan perlunya langkah penyelamatan yang lebih sistematis dan berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, akademisi, dan masyarakat.
Pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang pernaskahan, khususnya tenaga preservasi manuskrip yang jumlahnya masih terbatas. Penguatan SDM dinilai menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian jangka panjang.
Ketua Umum Manassa, Agus Iswanto, menyampaikan kesiapan organisasinya untuk memberikan rekomendasi manuskrip yang layak diajukan sebagai cagar budaya nasional maupun sebagai warisan dunia. Selain itu, dibahas pula peluang kerja sama repatriasi manuskrip, yang dapat diawali melalui repatriasi digital mengingat sejumlah koleksi manuskrip Nusantara saat ini tersimpan di berbagai negara dan telah tersedia dalam bentuk digital.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan dalam pertemuan tersebut antara lain Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi, Direktur Permuseuman dan Sejarah Agus Mulyana, serta Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual Yayuk Sri Budi Rahayu. Sementara dari pihak Manassa hadir Dewan Penasehat Munawar Holil, Sekretaris Umum Aditia Gunawan, Bendahara Umum Harits Fadlly, beserta jajaran.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Kebudayaan dan Manassa menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi dalam menjaga dan mengoptimalkan manuskrip Nusantara sebagai fondasi penting pemajuan kebudayaan Indonesia. [ham]



