Komisi XII DPR RI Minta Pemerintah Segera Cari Terobosan Atasi Penurunan Produksi Migas - Telusur

Komisi XII DPR RI Minta Pemerintah Segera Cari Terobosan Atasi Penurunan Produksi Migas

Ketua Komisi XII DPR RI, Melchias Markus Mekeng

telusur.co.id - Ketua Komisi XII DPR RI, Melchias Markus Mekeng, meminta pemerintah segera mencari terobosan untuk mengatasi tren penurunan produksi minyak dan gas bumi (migas) di tengah kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.

Politisi Partai Golkar itu menilai pemerintah melalui SKK Migas, BPH Migas, dan PT Pertamina (Persero) perlu bekerja lebih serius menjaga produksi migas agar tetap sesuai asumsi kebutuhan nasional, bahkan jika memungkinkan meningkat.

“Kita harus menjaga lifting migas ini supaya bisa tetap sesuai dengan asumsi, dan kalau bisa ditingkatkan karena kebutuhannya itu meningkat terus. Tapi lifting-nya ini kan cenderung turun,” ujar Mekeng di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Mantan Ketua Banggar periode 2009-2014 juga memandang, persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat dari perspektif jangka pendek, khususnya dalam menghadapi kebutuhan energi dan target APBN 2027. Pemerintah perlu memiliki strategi jangka panjang untuk memastikan ketahanan energi nasional.

Karena itu, Mekeng mendorong pemerintah melakukan berbagai terobosan, termasuk mempercepat pengembangan energi alternatif dan teknologi pengolahan sumber daya alam menjadi bahan bakar.

“Kalau kita tidak ada terobosan yang baru, energi terbarukan, ini berbahaya buat anak cucu ke depan. Jadi kita bukan hanya bicara soal jangka pendek APBN 2027, tapi kita harus lebih jangka panjang,” tegasnya.

Salah satu terobosan yang menurut Mekeng dapat dipertimbangkan adalah pemanfaatan batu bara untuk dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM). Ia juga mendorong percepatan pengembangan bahan bakar alternatif seperti etanol.

“Misalnya batu bara dikonversi menjadi BBM. Kan sudah ada teknologinya. Nggak perlu masih apa, atau yang tadi yang etanol segala macam, itu harus dipercepat,” katanya.

Mekeng mengingatkan, tren penurunan lifting migas harus menjadi perhatian serius karena berbanding terbalik dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan energi.

Ia mencontohkan, sekitar 15 tahun lalu lifting minyak Indonesia masih berada di kisaran 870 ribu barel per hari. Kini angkanya disebut telah turun ke kisaran 600 ribuan barel per hari.

“Waktu saya Ketua Banggar 2010, itu lifting 870. Sekarang sudah tinggal 600-an. 200 ribu hilang,” ujarnya.

Jika tren tersebut terus berlanjut tanpa terobosan baru, Mekeng memperkirakan produksi minyak nasional dapat kembali turun signifikan dalam 15 tahun mendatang. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah hingga sekitar 300 juta jiwa.

“Kalau kita lihat lagi, 15 tahun lagi tinggal 400. Penduduk kita sudah 300 juta. Ini kan bahaya kalau nggak dibuat dari sekarang,” katanya.

Menurut Mekeng, pemerintah tidak boleh menunda langkah strategis tersebut. Upaya menjaga ketahanan energi harus dimulai sekarang melalui peningkatan produksi migas sekaligus mempercepat pengembangan sumber energi alternatif.

“Ini harus ada terobosan yang benar-benar harus dijalankan dari sekarang, nggak boleh ditunda,” pungkasnya.


Tinggalkan Komentar