telusur.co.id - Kompetisi sepak bola Indonesia memasuki musim 2026/2027 dengan sejumlah penyesuaian terhadap penerapan Law of the Game (LOTG) yang ditetapkan International Football Association Board (IFAB).
Penyesuaian tersebut akan menjadi bagian dari penerapan regulasi pertandingan pada kompetisi Super League dan Championship musim 2026/2027. Perubahan ini mencakup sejumlah aspek teknis di lapangan, mulai dari batas waktu untuk melakukan lemparan ke dalam dan tendangan gawang, mekanisme pergantian pemain, penanganan pemain cedera, hingga kewenangan Video Assistant Referee (VAR).
Melalui sebuah workshop bertajuk 'Refereeing Workshop For Media' di Kantor I.League, Jakarta, Kamis (3/9/2026), Komisi Wasit PSSI dan I.League memberikan sebuah insight bagi media, komentator, hingga sportcaster. Acara ini digelar untuk memberikan edukasi lebih lanjut bagi pecinta sepak bola nasional soal pembaruan terkini dari aturan sepak bola yang terus berubah.
Penerapan aturan baru tersebut pada prinsipnya diarahkan untuk menjaga kelancaran pertandingan, menambah masa aktif permainan, serta meningkatkan sportivitas dan konsistensi pengambilan keputusan wasit.
Beberapa aturan baru ini telah diberlakukan pada ajang Piala Dunia 2026 lalu.
Berikut tujuh penyesuaian aturan yang perlu dipahami dalam pelaksanaan pertandingan Super League dan Championship 2026/2027.
1. Throw In (Lemparan ke Dalam)
Salah satu penyesuaian yang perlu menjadi perhatian pemain dan tim adalah penerapan batas waktu dalam melakukan throw in atau lemparan ke dalam serta tendangan gawang.
Pemain tidak lagi leluasa menunda permainan ketika mendapatkan kesempatan melakukan lemparan ke dalam atau tendangan gawang. Wasit akan memberikan hitungan dan kesempatan tersebut harus dilakukan dalam waktu maksimal lima detik.
Untuk lemparan ke dalam, pemain yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan waktu dapat membuat hak melakukan lemparan beralih kepada tim lawan.
2. Pergantian Pemain Harus Lebih Cepat
Proses pergantian pemain juga menjadi bagian yang mendapatkan penyesuaian dalam penerapan aturan pertandingan musim 2026/2027. Pemain yang akan diganti diwajibkan meninggalkan lapangan paling lambat 10 detik setelah papan pergantian pemain diangkat.
Apabila pemain tersebut sengaja atau terlambat meninggalkan lapangan melewati batas waktu yang ditentukan, pemain pengganti tidak dapat langsung memasuki lapangan.
Pemain pengganti harus menunggu hingga pertandingan kembali berjalan selama 60 detik atau satu menit sebelum diperbolehkan masuk.
Ketentuan ini ditujukan untuk mengantisipasi upaya membuang waktu melalui proses pergantian pemain, terutama ketika sebuah tim sedang mempertahankan keunggulan.
3. Pemain Cedera Harus Menunggu Satu Menit Sebelum Kembali
Penanganan terhadap pemain yang mengalami cedera juga mengalami penyesuaian. Pemain yang mengalami cedera, kecuali penjaga gawang, harus mendapatkan perawatan di luar lapangan. Setelah memperoleh izin dari wasit untuk kembali bermain, pemain tersebut tidak dapat langsung memasuki lapangan.
Pemain harus menunggu hingga satu menit waktu aktif pertandingan berjalan sebelum diperbolehkan kembali bermain.
Ketentuan tersebut diharapkan dapat mencegah terjadinya penggunaan situasi cedera sebagai sarana untuk menghentikan atau memperlambat jalannya pertandingan.
Dengan demikian, tim juga dituntut lebih cermat dalam menentukan penanganan pemain yang mengalami cedera selama pertandingan berlangsung.
4. Protes Berlebihan Bisa Berujung Kartu Merah
Sikap pemain maupun ofisial ketika merespons keputusan wasit juga menjadi perhatian dalam penerapan regulasi baru.
Pemain dan ofisial dituntut menyampaikan keberatan terhadap keputusan wasit secara lebih terkontrol. Tindakan yang dinilai berlebihan, termasuk keluar dari area teknis atau lapangan pertandingan serta melakukan gestur provokatif terhadap keputusan wasit, dapat berujung pada kartu merah.
Penegakan aturan ini diharapkan dapat mengurangi aksi protes secara berlebihan yang selama ini berpotensi memicu ketegangan di lapangan.
Bagi ofisial tim, penerapan ketentuan tersebut juga menjadi pengingat bahwa area teknis bukan tempat untuk melakukan intimidasi ataupun tindakan provokatif terhadap perangkat pertandingan.
5. Konfrontasi Provokatif Bisa Langsung Diusir
Pemain juga harus lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan lawan dalam situasi yang berpotensi memicu konflik. Konfrontasi yang disertai gestur provokatif dapat dikenai sanksi tegas hingga kartu merah. Salah satu tindakan yang menjadi perhatian adalah penggunaan gestur tertentu, termasuk menutup mulut dengan tangan atau jersey ketika melakukan konfrontasi provokatif.
"Pemain yang menutup mulut sambil menyampaikan ujaran provokatif di pertandingan akan diberi kartu merah. Hal ini juga sudah diterapkan lebih dulu di Piala Dunia 2026," kata Yoshimi Ogawa dalam 'Refereeing Workshop For Media' di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Pemain pertama yang terkena kartu merah akibat aturan baru menutup mulut adalah Miguel Almiron dari Timnas Paraguay pada laga vs Turki di Grup D Piala Dunia FIFA 2026. Almirón terlibat adu mulut dengan bek Turki, Mert Müldür. Ia menutup mulutnya dengan tangan saat berbicara kepada sang lawan.
Namun, pelanggaran ini tidak berlaku apabila dilakukan kepada rekan setim maupun dengan lawan khususnya dalam gestur pertemanan bukan sebuah konfrontasi di permainan.
6. Kewenangan VAR Semakin Luas
Penerapan Video Assistant Referee (VAR) juga mendapatkan penyesuaian dalam kompetisi musim 2026/2027.
Teknologi tersebut memiliki cakupan pemeriksaan yang lebih luas terhadap sejumlah insiden penting dalam pertandingan. Beberapa situasi tambahan yang dapat menjadi objek peninjauan antara lain insiden terkait tendangan sudut, kartu kuning kedua yang berujung kartu merah, serta kemungkinan adanya pelanggaran tim penyerang sebelum terjadinya situasi bola mati.
Perluasan cakupan tersebut memberikan lapisan pengawasan tambahan terhadap keputusan-keputusan krusial yang berpotensi memengaruhi jalannya pertandingan.
Bagi kompetisi Super League dan Championship, penerapan VAR dengan cakupan yang lebih luas juga menuntut pemain, pelatih, ofisial, serta perangkat pertandingan memahami prosedur dan batas kewenangan teknologi tersebut.
Penerapan penyesuaian Laws of the Game pada musim 2026/2027 pada akhirnya tidak hanya menjadi tanggung jawab wasit. Pemain, pelatih, ofisial, dan seluruh klub peserta Super League serta Championship perlu memahami perubahan tersebut agar penerapannya di lapangan dapat berjalan konsisten.
Mulai dari batas waktu saat melakukan lemparan ke dalam dan tendangan gawang, proses pergantian pemain, penanganan pemain cedera, pengendalian protes dan konfrontasi, hingga perluasan penggunaan VAR, seluruhnya memiliki konsekuensi terhadap dinamika pertandingan.
Super League akan memainkan laga perdananya antara Arema FC dan Isenmulang Kalteng FC pada Jumat (4/9/2026) di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada pukul 15.30 WIB. Selanjutnya, upacara pembukaan akan digelar pada pertandingan Bali United kontra PSS Sleman pada pukul 19.00 WIB di Bali.



