telusur.co.id - Oleh : Denny JA
- Satu Bumi, Satu Manusia, Satu Solidaritas
Bayangkan satu malam, manusia, di semua zona waktu, berhenti sejenak dari pertikaian.
Di kota yang gemerlap dan di desa yang sunyi, di wilayah yang damai maupun yang luka, semua orang menoleh ke arah jam yang sama.
Bukan untuk mengukur kekuasaan, melainkan untuk mengakui kebersamaan.
Tak ada bendera yang lebih tinggi dari bendera kemanusiaan. Tak ada doa yang saling meniadakan; yang ada hanyalah harapan yang berdampingan.
Pada malam itu, umat manusia, apa pun agama, negara, etnis, gender, dan bahasanya, merayakan hari raya bersama: bukan untuk menyeragamkan pandangan, melainkan untuk merayakan kesamaan nasib sebagai manusia.
Mengapa Umat Manusia Memerlukan Hari Raya Bersama
Pertama: karena kita berbagi nasib yang sama di satu bumi.
Perubahan iklim, pandemi, perang, kelaparan, dan krisis air tidak mengenal paspor.
Ketika bumi terluka, ia tidak bertanya keyakinan apa yang kita anut. Hari raya bersama mengingatkan bahwa, tanggung jawab kita pun bersama.
Dalam Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari menunjukkan bahwa peradaban manusia bertahan bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kesepakatan imajiner bersama: kalender, hukum, uang, dan nilai kemanusiaan.
Hari raya bersama adalah salah satu kesepakatan simbolik paling penting. Ia mengingatkan bahwa, di balik semua perbedaan, kita masih hidup dalam satu cerita besar sebagai spesies manusia.
Kedua: karena dunia membutuhkan jeda moral.
Peradaban bergerak cepat, sering kali tanpa ruang untuk merenung.
Hari raya bersama menjadi rem kolektif, sebuah momen global untuk mengingat nilai paling dasar: martabat manusia lebih tinggi dari ambisi apa pun.
Ketiga: karena perdamaian memerlukan ritual, bukan hanya resolusi. Perjanjian dapat ditandatangani, tetapi luka memerlukan simbol.
Hari raya bersama adalah simbol hidup, ritual tahunan yang menegaskan: perbedaan boleh dirayakan, permusuhan tidak harus diwariskan.
Mengapa Malam Tahun Baru Paling Layak Dipilih
Malam tahun baru adalah ambang yang netral. Ia tidak lahir dari satu kitab suci, tidak dimonopoli satu tradisi.
Ia adalah pintu waktu, tempat semua orang berdiri sejajar, membawa masa lalu dan berharap pada masa depan.
Tahun baru juga bahasa yang dipahami semua manusia.
Setiap kebudayaan mengenal pergantian waktu.
Ketika kalender berganti, manusia secara naluriah menilai ulang hidupnya. Inilah bahasa universal: refleksi dan harapan.
Lebih dari itu, tahun baru memuat janji pembaruan.
Jika konflik adalah warisan, maka harapan adalah pilihan.
Tahun baru menawarkan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk memulai lagi, tanpa harus menghapus identitasnya.
Asal Usul 1 Januari: Milik Sejarah, Bukan Milik Satu Agama
Tanggal 1 Januari berasal dari penataan kalender Romawi kuno, yang kemudian disempurnakan dalam kalender Gregorian pada abad ke-16.
Ia lahir dari kebutuhan manusia mengatur waktu, bukan dari dogma teologis.
Karena itu, 1 Januari bukan hari raya agama tertentu. Ia adalah kesepakatan peradaban, sebuah titik temu agar manusia dapat hidup bersama dalam ritme yang sama.
Justru karena netralitas itulah, 1 Januari layak menjadi hari raya kemanusiaan, ruang bersama yang tidak meniadakan hari-hari suci agama, melainkan melengkapinya.
Mengapa Gagasan Ini Perlu Diulang
Tahun lalu saya menyampaikan gagasan ini, dan ia telah dipublikasikan di berbagai media.
Saya mengulanginya karena dunia belum menjadi lebih tenang.
Perang masih menyala.
Iklim kian rapuh.
Empati sering kalah oleh algoritma.
Dalam The Human Condition, Hannah Arendt menegaskan pentingnya ruang bersama, ruang di mana manusia hadir bukan sebagai musuh, bukan sebagai identitas sempit, melainkan sebagai sesama penghuni dunia yang sama.
Hari raya bersama adalah bentuk paling sederhana dari ruang publik global: satu waktu, satu momen, ketika umat manusia memilih untuk hadir bersama tanpa saling meniadakan.
Mengulang gagasan bukan tanda kehabisan ide, melainkan tanda kesetiaan pada harapan.
Sejarah menunjukkan: ide-ide besar lahir bukan karena diucapkan sekali, tetapi karena diingatkan berkali-kali, hingga dunia siap mendengarnya.
Saya hanya mengusulkan satu malam dalam setahun, ketika manusia mengingat bahwa sebelum menjadi apa pun, kita adalah sesama manusia yang nasibnya saling memengaruhi, langsung ataupun tidak.
Jika PBB adalah rumah bagi bangsa-bangsa, maka malam tahun baru dapat menjadi ruang tamu kemanusiaan, tempat semua orang duduk sejajar, saling menyapa, dan berjanji menjaga bumi bersama.
“Perdamaian bukanlah ketiadaan perbedaan,
melainkan keputusan untuk hidup berdampingan.”
Semoga suatu hari, ketika jam dunia berdentang menuju tengah malam, umat manusia tidak hanya menghitung detik, tetapi juga menghitung kembali nilai-nilai yang membuat kita layak disebut manusia.
Satu Bumi.
Satu Manusia.
Satu Solidaritas.
*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum Satupena, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).
Foto : Suasana perayaan malam tahun baru 2026 di dekat kolam renang Kusuma Agrowisata Resort & Convention Hotel, Kota Batu (doc: content creator @prythapramesthi) Malam Tahun Baru Sebagai Hari Raya Bersama Umat Manusia
Oleh : Denny JA
- Satu Bumi, Satu Manusia, Satu Solidaritas
Bayangkan satu malam, manusia, di semua zona waktu, berhenti sejenak dari pertikaian.
Di kota yang gemerlap dan di desa yang sunyi, di wilayah yang damai maupun yang luka, semua orang menoleh ke arah jam yang sama.
Bukan untuk mengukur kekuasaan, melainkan untuk mengakui kebersamaan.
Tak ada bendera yang lebih tinggi dari bendera kemanusiaan. Tak ada doa yang saling meniadakan; yang ada hanyalah harapan yang berdampingan.
Pada malam itu, umat manusia, apa pun agama, negara, etnis, gender, dan bahasanya, merayakan hari raya bersama: bukan untuk menyeragamkan pandangan, melainkan untuk merayakan kesamaan nasib sebagai manusia.
Mengapa Umat Manusia Memerlukan Hari Raya Bersama
Pertama: karena kita berbagi nasib yang sama di satu bumi.
Perubahan iklim, pandemi, perang, kelaparan, dan krisis air tidak mengenal paspor.
Ketika bumi terluka, ia tidak bertanya keyakinan apa yang kita anut. Hari raya bersama mengingatkan bahwa, tanggung jawab kita pun bersama.
Dalam Sapiens: A Brief History of Humankind, Yuval Noah Harari menunjukkan bahwa peradaban manusia bertahan bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena kesepakatan imajiner bersama: kalender, hukum, uang, dan nilai kemanusiaan.
Hari raya bersama adalah salah satu kesepakatan simbolik paling penting. Ia mengingatkan bahwa, di balik semua perbedaan, kita masih hidup dalam satu cerita besar sebagai spesies manusia.
Kedua: karena dunia membutuhkan jeda moral.
Peradaban bergerak cepat, sering kali tanpa ruang untuk merenung.
Hari raya bersama menjadi rem kolektif, sebuah momen global untuk mengingat nilai paling dasar: martabat manusia lebih tinggi dari ambisi apa pun.
Ketiga: karena perdamaian memerlukan ritual, bukan hanya resolusi. Perjanjian dapat ditandatangani, tetapi luka memerlukan simbol.
Hari raya bersama adalah simbol hidup, ritual tahunan yang menegaskan: perbedaan boleh dirayakan, permusuhan tidak harus diwariskan.
Mengapa Malam Tahun Baru Paling Layak Dipilih
Malam tahun baru adalah ambang yang netral. Ia tidak lahir dari satu kitab suci, tidak dimonopoli satu tradisi.
Ia adalah pintu waktu, tempat semua orang berdiri sejajar, membawa masa lalu dan berharap pada masa depan.
Tahun baru juga bahasa yang dipahami semua manusia.
Setiap kebudayaan mengenal pergantian waktu.
Ketika kalender berganti, manusia secara naluriah menilai ulang hidupnya. Inilah bahasa universal: refleksi dan harapan.
Lebih dari itu, tahun baru memuat janji pembaruan.
Jika konflik adalah warisan, maka harapan adalah pilihan.
Tahun baru menawarkan kesempatan yang sama kepada semua orang untuk memulai lagi, tanpa harus menghapus identitasnya.
Asal Usul 1 Januari: Milik Sejarah, Bukan Milik Satu Agama
Tanggal 1 Januari berasal dari penataan kalender Romawi kuno, yang kemudian disempurnakan dalam kalender Gregorian pada abad ke-16.
Ia lahir dari kebutuhan manusia mengatur waktu, bukan dari dogma teologis.
Karena itu, 1 Januari bukan hari raya agama tertentu. Ia adalah kesepakatan peradaban, sebuah titik temu agar manusia dapat hidup bersama dalam ritme yang sama.
Justru karena netralitas itulah, 1 Januari layak menjadi hari raya kemanusiaan, ruang bersama yang tidak meniadakan hari-hari suci agama, melainkan melengkapinya.
Mengapa Gagasan Ini Perlu Diulang
Tahun lalu saya menyampaikan gagasan ini, dan ia telah dipublikasikan di berbagai media.
Saya mengulanginya karena dunia belum menjadi lebih tenang.
Perang masih menyala.
Iklim kian rapuh.
Empati sering kalah oleh algoritma.
Dalam The Human Condition, Hannah Arendt menegaskan pentingnya ruang bersama, ruang di mana manusia hadir bukan sebagai musuh, bukan sebagai identitas sempit, melainkan sebagai sesama penghuni dunia yang sama.
Hari raya bersama adalah bentuk paling sederhana dari ruang publik global: satu waktu, satu momen, ketika umat manusia memilih untuk hadir bersama tanpa saling meniadakan.
Mengulang gagasan bukan tanda kehabisan ide, melainkan tanda kesetiaan pada harapan.
Sejarah menunjukkan: ide-ide besar lahir bukan karena diucapkan sekali, tetapi karena diingatkan berkali-kali, hingga dunia siap mendengarnya.
Saya hanya mengusulkan satu malam dalam setahun, ketika manusia mengingat bahwa sebelum menjadi apa pun, kita adalah sesama manusia yang nasibnya saling memengaruhi, langsung ataupun tidak.
Jika PBB adalah rumah bagi bangsa-bangsa, maka malam tahun baru dapat menjadi ruang tamu kemanusiaan, tempat semua orang duduk sejajar, saling menyapa, dan berjanji menjaga bumi bersama.
“Perdamaian bukanlah ketiadaan perbedaan,
melainkan keputusan untuk hidup berdampingan.”
Semoga suatu hari, ketika jam dunia berdentang menuju tengah malam, umat manusia tidak hanya menghitung detik, tetapi juga menghitung kembali nilai-nilai yang membuat kita layak disebut manusia.
Satu Bumi.
Satu Manusia.
Satu Solidaritas.
*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum Satupena, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).




