telusur.co.id - "Dada sakit, kalau mau tarik nafas dalam-dalam susah dan sakitnya tidak nyaman, sampai kepikiran lama (anxiety,) mikir kena penyakit jantunglah, paru-paru lah... sampai-sampai takut mati.” Penggalan curahan hati seorang netizen ini mewakili kepanikan yang dirasakan banyak orang ketika nyeri dada menyerang.
Pertanyaan yang sama selalu muncul: apakah ini hanya asam lambung, atau pertanda serangan jantung yang fatal?
Di tengah kebingungan seperti itu, konsumen kerap mengambil jalan pintas dengan diagnosis mandiri, yang seringkali akibat justru membahayakan.
Media sosial pun dibanjiri kisah-kisah serupa, menjadi bukti bahwa membedakan keduanya adalah krusial.
Bagi sebagian, nyeri dada panas dianggap sebagai gejala “masuk angin” biasa. Namun, pengalaman netizen menunjukkan betapa berbahayanya asumsi ini.
Pengguna akun X @AntoniusCDN menjadi viral saat mengingatkan bahaya salah kaprah antara 'masuk angin' biasa dengan “Angin Duduk”.
“Asal Main minum obat tradisional padahal gejalanya serius, bisa fatal.... Ingat obat tradisional bukan obat jantung,” cuitnya dengan tegas.
Kepanikan serupa juga tergambar dari curhatan pengguna TikTok @mukenxprvqo.
“Pernah banget kena GERD, yang awalnya saya kira masuk angin kemudian minum obat tradisional. Buset, rasanya kayak mau nggak ada aja. Sakit sekali,” tulisnya merujuk ke merek obat herbal populer di pasar.
Menurut situs kesehatan Halodoc, dalam artikel yang ditinjau oleh dr. Fadhli Rizal Makarim, kemiripan gejala ini terjadi karena lokasi kerongkongan dan jantung yang berdekatan.
“Nyeri dada akibat GERD memang mirip dengan serangan jantung, karena sama-sama menimbulkan sensasi perih dan tekanan di dada,” tulis artikel tersebut. Namun, ada perbedaan mendasar yang wajib diketahui.
Nyeri Dada karena GERD (Heartburn):
• Sensasi: Terasa panas atau terbakar di dada.
• Pemicu: Biasanya muncul setelah makan (terutama makanan pedas atau berlemak), saat membungkuk, atau berbaring.
• Gejala Penyerta: Seringkali disertai rasa asam atau pahit di mulut dan perut terasa kembung.
• Respons Terhadap Obat: Umumnya mereda setelah minum obat antasida atau penurun asam lambung.
Nyeri Dada karena Jantung (Angin Duduk/Serangan Jantung):
• Sensasi: Terasa seperti ditekan, diremas, atau dihimpit benda berat.
• Pemicu: Bisa terjadi kapan saja, seringkali saat beraktivitas fisik atau stres emosional.
• Gejala Penyerta: Disertai sesak napas, keringat dingin, pusing, mual, dan nyeri yang bisa menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang.
• Respons Terhadap Obat: Tidak akan mereda dengan obat maag.
Halodoc juga menegaskan dalam artikel lain bahwa “angin duduk” (angina pektoris) adalah kondisi serius akibat kurangnya pasokan darah ke jantung dan tidak boleh dianggap remeh.
“Tak sedikit orang yang tidak tahu perbedaan antara masuk angin dan angin duduk. Walaupun gejalanya mirip, angin duduk bisa lebih membahayakan ketimbang masuk angin,” tulis artikel tersebut.
Kisah-kisah dari media sosial dan penjelasan medis sama-sama mengarah pada satu kesimpulan: jangan pernah bermain tebak-tebakan dengan nyeri dada. Menganggapnya sebagai masalah sepele dan hanya mengandalkan obat-obatan yang dijual bebas tanpa diagnosis yang jelas adalah sebuah pertaruhan besar.
Jika Anda mengalami nyeri dada, terutama jika disertai gejala-gejala yang mengarah pada gangguan jantung, langkah terbaik adalah segera mencari pertolongan medis. Lebih baik memastikan kondisi Anda aman di fasilitas kesehatan daripada menyesal kemudian.[Nug]



