telusur.co.id - Kementerian Perdagangan dan Kementerian BUMN harus serius menyelenggarakan program migor-rakyat dan jangan sekedar pemberi harapan palsu (PHP) pada masyarakat.
Anggota Komisi VII DPR, Mulyanto, berharap Kemendag serius melaksanakan program ini dan bukan sekedar lips service, disaat masih tingginya harga migor. "Kami berharap program ini dapat terlaksana dengan baik. Jangan PHP masyarakat lagi," kata Mulyanto, kepada wartawan, Kamis (19/5/22).
Diketahui, program ini adalah penjualan minyak goreng curah tanpa subsidi Pemerintah. Slogan program ini "wujud kepedulian pengusaha minyak goreng kepada rakyat".
Masyarakat dapat membeli langsung ke toko tersebut maksimal 2 liter migor curah per orang per hari dengan harga sesuai HET, yaitu Rp14 ribu per liter.
Hingga saat ini, dikatakan sudah ada 1.200 toko atau ritel tradisional di kawasan padat permukiman, yang tersebar di enam provinsi yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Sulawesi Utara.
Mulyanto menegaskan Kemendag harus dapat memastikan program ini benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat. Bukan malah menjadi mainan baru mafia migor.
Kali ini, Kemendag harus bisa mewujudkan janji menyediakan migor murah kepada masyarakat. Sebab kalau sampai meleset lagi, masyarakat akan semakin kecewa dan tidak percaya pada pemerintah.
Sebab, hingga saat ini pengelolaan migor curah di Kemenperin dengan skema subsidi melalui Dana Sawit dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti. Bahkan setelah Presiden Jokowi mengumumkan kebijakan pelarangan ekspor CPO dan turunannya sekalipun (22/4), tetap saja migor curah langka dan dengan harga yang bertengger di atas HET.
Data dari PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis) Nasional per (18/5) harga migor curah masih sebesar Rp. 19.100 per kg dari HET yang sebesar Rp. 15.500 per kg.
Jadi, sangat wajar jika masyarakat meragukan program Mendag yang tanpa subsidi namun dapat menjual migor curah sesuai HET. Apalagi dengan embel-embel yang indah, yakni wujud kepedulian pengusaha minyak goreng kepada rakyat.
"Bukannya kita bersangka buruk. Faktanya, tarik-ulur Pemerintah menghadapi mafia dan pengusaha nakal migor ini sudah sampai pada puncak klimaknya," kata dia.[Fhr]



