telusur.co.id - Pemimpin Ansharullah, Sayyed Abdul-Malik al-Houthi, menegaskan bahwa gerakannya terus memantau setiap bentuk kehadiran Israel di wilayah Somaliland. Ia menyebut situasi di Somaliland sebagai ancaman serius bagi Yaman dan kawasan sekitarnya, mengingat lokasinya yang strategis di dekat Teluk Aden dan Selat Bab al-Mandab.
Al-Houthi menuduh Israel berupaya memperluas pengaruhnya di Somaliland untuk mengendalikan jalur air utama, yang menurutnya bertujuan melemahkan bangsa-bangsa di kawasan. Ia menekankan bahwa kewaspadaan Ansar Allah merupakan bagian dari persiapan menghadapi konfrontasi di masa depan, baik dengan Israel maupun Amerika Serikat, secara langsung maupun melalui proksi.
Menanggapi kerusuhan di Iran, al-Houthi menuding operasi tersebut sebagai hasil penargetan AS-Israel melalui kelompok kriminal. Ia menilai kehadiran besar rakyat Iran dalam pemakaman korban protes mencerminkan komitmen mereka terhadap sistem Islam dan perlawanan terhadap pengaruh asing.
Terkait Gaza, al-Houthi mengecam Israel karena dianggap gagal memenuhi ketentuan gencatan senjata. Ia menyoroti blokade yang masih berlangsung, serta serangan harian yang menimbulkan korban jiwa dan kehancuran. Menurutnya, kondisi ini memperkuat posisi Yaman dalam mendukung perjuangan Gaza.
Israel disebut semakin meningkatkan kehadirannya di Tanduk Afrika, terutama melalui pengakuan resmi terhadap Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat. Langkah ini ditandai dengan deklarasi bersama antara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menlu Gideon Saar, dan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdallah.
Selain itu, Israel juga memperdalam hubungan dengan Ethiopia. Pada 14 Januari, kedua negara mengumumkan langkah untuk memperkuat kerja sama diplomatik dan strategis, dengan pertemuan pejabat senior membahas tantangan regional dan peluang kolaborasi. Menlu Israel Gideon Saar menggambarkan Ethiopia sebagai “mitra strategis jangka panjang.”
Somaliland kini menjadi tuan rumah pangkalan militer besar Uni Emirat Arab di Berbera, yang digunakan untuk memproyeksikan kekuatan di Tanduk Afrika dan Laut Merah. Kehadiran ini, menurut laporan, mendukung operasi yang membatasi ruang gerak Ansar Allah dan memperkuat posisi Israel bersama Washington dan Abu Dhabi dalam arsitektur keamanan regional.
Lebih jauh, analis Israel menyebut Somaliland sebagai lokasi potensial untuk menampung warga Gaza dalam kerangka Rencana Riviera Gaza yang digagas Presiden Trump. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga terkait agenda demografi Palestina. [ham]




