telusur.co.id - Sekretaris Jenderal PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan perbedaan penetapan awal Ramadan adalah hal yang biasa sebagaimana khilafiah dalam melaksanakan ibadah. "Masyarakat hendaknya saling bertoleransi dan saling menghormati," ujar Abdul Mu'ti dalam pernyataan yang dikutip dari media sosialnya, Sabtu.
Menurutnya, perbedaan penetapan bukan soal benar atau salah, menang atau kalah, tapi soal keyakinan dan pilihan.
"Agar tumbuh sikap saling memahami, penting sekali memahami sumber dan sebab perbedaan sehingga tidak saling menghakimi," imbuh dia.
Seperti diketahui, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadhan 1443 Hijriah jatuh pada tanggal 2 April 2022. Penetapan awal puasa Ramadan itu sesuai dengan hasil perhitungan hisab yang dilakukan Muhammadiyah.
Sedangkan Pemerintah dan NU menetapkan awal puasa pada 3 April, Minggu. "Alhamdulillah sidang isbat ini telah mengambil kesepakatan dan keputusan bahwa 1 Ramadan 1443 H bertepatan pada hari Ahad, 3 April 2022 M," ungkap Menag Yaqut Cholil Qoumas. [ham]



