Peran Keluarga Jadi Kunci Keberhasilan Vaksinasi Lansia - Telusur

Peran Keluarga Jadi Kunci Keberhasilan Vaksinasi Lansia

Dialog Virtual KPCPEN FMB9 bertema "Partisipasi Lansia, Tugas Bersama"

telusur.co.id - Lansia menjadi salah satu prioritas dalam program vaksinasi nasional. Adapun jumlah lansia di Indonesia menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2020 mencapai 80 juta jiwa.

Wilayah dengan penduduk lansia terbanyak adalah Yogyakarta dengan 14,5 juta jiwa, lalu Jawa Tengah 13,4 juta jiwa, Jawa Timur 13 juta jiwa, Bali 11,3 juta jiwa, dan Sulawesi Utara 11,2 juta jiwa.

Dirjen Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, dukungan keluarga sangat penting dalam menyukseskan program vaksinasi lansia.

"Harus menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat, terutama kepada anak-anak yang punya orang tua atau kakek, nenek atau lansia. Mereka harus betul-betul memaknai pentingnya vaksinasi bagi lansia untuk memproteksi mereka," ujar Maxi dalam seminar daring yang diselenggarakan oleh KPCPEN dengan tema "Partisipasi Lansia, Tugas Bersama", Rabu (31/3/21).

Maxi menjelaskan, pihaknya sudah memulai berbagai terobosan agar jumlah vaksinasi untuk lansia agar dapat ditingkatkan sesuai target. Di antaranya dengan memberikan akses vaksinasi kepada para pihak yang bisa membawa dua lansia untuk divaksinasi. 

"Terobosan lainnya termasuk melakukan mobilisasi dengan menyiapkan alat transportasi, agar lansia dapat mudah menjangkau titik-titik pelaksanaan vaksinasi yang sudah ditentukan," terangnya.

Menurut Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization, Prof. Sri Rezeki, perlu dilakukan sosialisasi masif terkait manfaat vaksinasi bagi lansia. Dengan demikian, diharapkan dapat membangkitkan kesadaran lansia maupun keluarganya.

"Bagaimana kita mengelola (sosialisasikan vaksinasi) ini agar menarik. Tetapi mungkin harus ada yang dipikirkan baik-baik. Kita tidak hanya memikirkan pendidikan untuk vaksin, tapi the whole life. Itu mungkin yang harus diubah perilaku kita semua," kata Sri Rezeki.

Sri Rezeki juga menekankan peran media sebagai penyampai pesan. Di tengah digitalisasi, para pihak terkait diharapkan dapat memanfaatkan jenis media dengan efektif.

Perlu diketahui, sepanjang masa pandemi Covid 19, lebih dari 50 persen masyarakat mengaku mendapat sumber informasi melalui saluran berita televisi.

Dalam diskusi KPCPEN sebelumnya juga dibahas betapa hoax terkait vaksin dan vaksinasi. Hoax yang disebarkan di media sosial berdampak negatif terhadap penyelenggaraan program vaksinasi di Indonesia. (Fhr)


Tinggalkan Komentar