telusur.co.id - Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik maupun pertumbuhan ekonomi. Di ruang-ruang kelas, semangat tersebut juga tumbuh melalui pendidikan yang mampu menyiapkan seluruh generasi bangsa menghadapi masa depan, termasuk peserta didik penyandang autisme.
Komitmen itu sejalan dengan kebijakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, yang menjadikan pembelajaran coding, Artificial Intelligence (AI), dan transformasi digital sebagai salah satu program prioritas pendidikan nasional. Tujuannya adalah membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir komputasional, kreativitas, serta keterampilan memecahkan masalah di era digital.
Semangat transformasi tersebut kini mulai diterapkan di SLBN Gedangan, Kabupaten Sidoarjo. Di sekolah ini, peserta didik autis dikenalkan pada Coding Unplugged, yaitu pembelajaran konsep coding tanpa menggunakan komputer, yang disesuaikan dengan karakteristik belajar mereka. Inovasi tersebut dilakukan oleh Aloysia Dian Nimas Prameswari, S.Pd., M.Pd., G.R., C.T., guru Pendidikan Khusus SLBN Gedangan yang akrab disapa Bu Nimas.
"Anak-anak autis juga merupakan bagian dari generasi Indonesia yang akan hidup di era kecerdasan buatan. Mereka memiliki hak yang sama untuk mengenal teknologi dan mengembangkan kemampuan abad ke-21. Yang perlu disesuaikan bukan tujuan belajarnya, tetapi strategi pembelajarannya," papar Bu Nimas. Jumat, (31/7/2026).
Menurut data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Indonesia memiliki lebih dari 62,5 juta peserta didik, termasuk lebih dari 161 ribu peserta didik di Sekolah Luar Biasa (SLB). Besarnya jumlah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital harus menjangkau seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Pendidikan berawal dari ruang kelas, bagi Bu Nimas, kemajuan bangsa tidak dibangun secara instan.
"Saya selalu percaya bahwa kemajuan bangsa dibangun melalui proses panjang yang dimulai dari pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah ekosistem yang bermuara di ruang kelas. Karena itu, tugas guru adalah menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Sesuai dengan pendekatan PM,” ungkapnya.
Keyakinan tersebut menjadi dasar lahirnya model pembelajaran RAMAH, yaitu:
R-Rangkul setiap perbedaan
A-Afirmasi setiap kemampuan
M-Menginspirasi melalui keteladanan
A-Aktif menciptakan pembelajaran bermakna
H-Humanis dalam setiap interaksi.
Melalui pendekatan ini, keberhasilan peserta didik tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari perkembangan komunikasi, kemandirian, kemampuan bekerja sama, serta rasa percaya diri.
Belajar Coding dengan Cara Menyenangkan
Inspirasi penerapan Coding Unplugged muncul setelah Bu Nimas mengikuti pelatihan AI dan Coding di SLBN Gedangan, yang merupakan fasilitas yang diberikan sekolah untuk belajar bersama-sama untuk para guru.
Di kelas, peserta didik tidak langsung menggunakan komputer. Mereka belajar melalui permainan kartu instruksi, menyusun pola, menentukan urutan langkah, mengikuti arah panah, hingga permainan algoritma sederhana. Aktivitas tersebut melatih kemampuan berpikir logis, fokus, komunikasi, kerja sama, dan pemecahan masalah.
"Coding bukan sekadar belajar komputer. Coding melatih anak berpikir runtut, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan percaya diri. Saya ingin membuktikan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga mampu mengikuti perkembangan zaman apabila guru mampu menghadirkan pembelajaran yang tepat, menyenangkan, dan penuh makna," jelasnya.
Menurut Bu Nimas, pendidikan khusus sudah saatnya bergerak dari paradigma melindungi menjadi memberdayakan. Anak-anak berkebutuhan khusus harus diberi kesempatan yang sama untuk mengenal teknologi dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Mengabdi untuk Pendidikan Inklusif
Dedikasi Bu Nimas tidak berhenti di sekolah. Selain mengajar di SLBN Gedangan, ia juga merupakan Owner Akasa Center di Surabaya, sebuah layanan intervensi anak berkebutuhan khusus yang menyediakan asesmen, terapi, pelatihan guru, serta pendampingan bagi orang tua.
Komitmennya dalam dunia pendidikan mengantarkannya meraih penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional bidang pendidikan dan Pemuda Utama Provinsi Jawa Timur. Meski demikian, ia menilai penghargaan bukanlah tujuan akhir.
"Penghargaan bukan akhir dari perjuangan. Ini adalah amanah untuk terus menghadirkan inovasi dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak berkebutuhan khusus," katanya.
Membangun Indonesia dari Ruang Kelas
Menurut Bu Nimas, kemerdekaan juga berarti memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.
Melalui filosofi RAMAH dan penerapan Coding Unplugged, ia membuktikan bahwa peserta didik autis mampu mengikuti perkembangan teknologi apabila didampingi dengan strategi pembelajaran yang tepat.
Dari ruang kelas sederhana di SLBN Gedangan, semangat kemerdekaan diwujudkan dalam bentuk pembelajaran yang humanis, menyenangkan, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Karena pada akhirnya, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur dibangun dari ruang kelas yang mampu menghargai setiap perbedaan, mengembangkan setiap potensi, dan memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Nimas. (ari)



