telusur.co.id -Seragam kerja yang sudah tidak digunakan kerap kali hanya tersimpan di gudang atau berakhir menjadi limbah tekstil. Namun, melalui program daur ulang kreatif yang dilakukan PT Pelindo Daya Sejahtera (PDS), ratusan seragam bekas berhasil diubah menjadi produk bernilai guna sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Sebanyak 106 seragam bekas layak pakai milik PDS kini bertransformasi menjadi 300 dompet yang nantinya digunakan sebagai souvenir perusahaan dalam berbagai kegiatan. Program tersebut menjadi bagian dari upaya PDS dalam memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna sekaligus mendukung pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Pengolahan seragam bekas tersebut dilakukan oleh UMKM Jahit Dadi Juara yang berlokasi di Jalan Perak Barat No. 263, Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Kelompok usaha yang berdiri sejak 2023 itu beranggotakan 14 orang, dengan delapan anggota terlibat langsung dalam pengerjaan pesanan dari PDS. Seluruh anggota yang berpartisipasi merupakan ibu-ibu yang berdomisili di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Sebelum memasuki proses produksi, seluruh seragam terlebih dahulu dicuci dan dibersihkan. Material kemudian dipilah berdasarkan kondisi kain yang masih memungkinkan untuk digunakan kembali. Setelah melalui tahap seleksi, kain dipotong, didesain ulang, lalu dijahit menjadi dompet dengan bentuk dan karakter yang berbeda sesuai dengan bahan yang tersedia.
Dalam proses pengerjaannya, tantangan terbesar berada pada tahap pemilahan material. Tidak seluruh bagian seragam dapat dimanfaatkan kembali sehingga diperlukan ketelitian untuk menentukan bagian kain yang masih layak pakai serta mengombinasikannya dengan material pendukung lainnya.
Menariknya, produk dompet tersebut juga memanfaatkan batik tulis hasil karya kelompok penyandang disabilitas sebagai material pendukung. Perpaduan antara potongan seragam bekas dan batik tulis tersebut menghasilkan produk dengan tampilan yang lebih beragam sekaligus membawa nilai sosial dalam setiap karya.
Pembina UMKM Jahit Dadi Juara, Ida Nurdiana, mengatakan pengerjaan pesanan dari PDS memberikan pengalaman baru bagi para anggota karena berbeda dengan proses produksi menggunakan bahan baru.
“Biasanya kami mengerjakan produk dari bahan baru yang sudah seragam. Pada pesanan ini, kami harus lebih teliti dalam menentukan bagian-bagian kain yang masih layak digunakan dan mengombinasikannya dengan material lain. Bagi kami proses ini menjadi pengalaman baru yang menambah keterampilan sekaligus wawasan dalam mengolah bahan daur ulang,” ujarnya.
Selain memberikan pengalaman dalam mengolah material daur ulang, kerja sama tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi anggota kelompok. Menurut Ida, kepercayaan yang diberikan PDS menjadi motivasi bagi UMKM Jahit Dadi Juara untuk terus mengembangkan keterampilan dan menjaga keberlangsungan usaha.
Sekretaris Perusahaan PDS, Bayu Widyafrasta, menyampaikan bahwa nilai utama program tersebut tidak hanya terletak pada produk akhir, tetapi juga pada kolaborasi yang terbangun selama proses pengerjaan.
“Tidak semua seragam yang sudah tidak digunakan harus berakhir menjadi limbah. Melalui program ini, kami mencoba memanfaatkan kembali material yang masih layak menjadi produk baru yang memiliki nilai guna. Dalam prosesnya, kami juga menggunakan batik tulis dari kelompok disabilitas sebagai material pendukung. Kami berharap model seperti ini dapat menciptakan dampak yang lebih luas karena manfaatnya dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan,” ujar Bayu.
Pemanfaatan seragam bekas menjadi souvenir perusahaan merupakan bagian dari komitmen PDS dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program tersebut tidak hanya berfokus pada aspek sosial, tetapi juga mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali material yang masih bernilai.
Dengan melibatkan UMKM yang berada di wilayah ring 1 perusahaan, PDS berharap program tersebut dapat membuka ruang pemberdayaan masyarakat sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui inovasi tersebut, seragam yang sebelumnya telah menyelesaikan fungsi utamanya kini memperoleh kehidupan baru dalam bentuk produk yang lebih bermanfaat. Transformasi ini tidak hanya membantu mengurangi limbah tekstil, tetapi juga menjadi bukti bahwa material yang tidak lagi digunakan masih dapat diolah menjadi karya bernilai ekonomi dan sosial.



