telusur.co.id, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Ananta Wahana meminta pemerintah menggunakan data tunggal dalam penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) minyak goreng bagi warga miskin.
Menurut Ananta, keakurasian data sangat penting untuk memastikan bantuan tunai itu tepat sasaran bagi penerima manfaat bantuan.
“Jadi datanya harus akurat betul, tidak tumpang tindih. Dan datanya harus tunggal. Agar apa, ya tadi itu, supaya benar-benar penerima manfaatnya adalah warga miskin,” tegas Ananta usai melakukan kunjungan reses di tiga pasar yang ada di wilayah Tangerang Raya, Sabtu (16/04/2022).
Persoalan data warga miskin, Anggota Komisi VI DPR RI ini memandang, perlu ada dilakukan pemutakhiran agar bisa memiliki tingkat akurasi yang tinggi.
“Bila perlu diverifikasi secara faktual. Ini penting, lantaran urusan data warga miskin tak jarang jadi soal di lapangan karena tidak tepat sasaran,” imbuhnya.
Diketahui, BLT minyak goreng mulai dicairkan kepada masyarakat. Pencairan BLT minyak goreng bersamaan dengan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) alias bantuan Sembako.
Dengan demikian, setiap penerima akan mendapatkan uang tunai sebesar Rp 500 ribu dalam sekali pencairan. Rinciannya, BLT minyak goreng Rp 300 ribu untuk periode April, Mei, dan Juni 2022 dan bantuan Sembako Rp 200 ribu periode Mei 2022.
Dana tersebut akan diberikan kepada 20,5 juta KPM. Terdiri dari 18,8 juta warga penerima sembako atau BPNT dan 1,85 juta warga penerima PKH, tapi tak menerima bantuan sembako. Kedua kelompok itu juga dimasukkan menjadi penerima BLT minyak goreng.
Harga Komoditas Pangan Masih Fluktuatif
Sementara itu, terkait harga sejumlah komoditas pangan di beberapa pasar yang Ananta kunjungi, ternyata, harganya masih fluktuatif. Ada yang naik, ada pula yang turun dari harga sebelumnya.
Seperti di Pasar Modern BSD Kota Tangerang Selatan. Harga yang mengalami kenaikan antara lain telur dari Rp23 ribu/kilo menjadi Rp25 ribu/kilo, terigu naik dari Rp10 ribu/kilo menjadi Rp12 ribu/kilo.
Kemudian daging sapi mengalami tiga kali kenaikan dari Rp145 ribu/kilo lalu naik Rp150 ribu/kilo dan naik lagi menjadi Rp160 ribu/kilo.
Untuk daging kambing Rp145 ribu/kilo naik menjadi Rp150 ribu perkilo. Gula Pasir naik tiga kali dari Rp13.500/kilo lalu Rp14 ribu/kilo dan naik lagi menjadi Rp15 ribu/kilo.
Sementara untuk tempe dan tahu tetap pada kisaran Rp10 ribu hingga Rp12 ribu, hanya saja ukurannya menjadi lebih kecil.
Selanjutnya, di Pasar Semi Modern Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Harga telur ayam turun dari Rp25 ribu/kilo menjadi Rp24 ribu/kilo.
Lalu daging ayam naik dari Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu/kilo. Untuk cabai turun dari Rp60 ribu menjadi Rp40 ribu/kilo, dan bawang naik dari Rp30 ribu/kilo menjadi Rp40 ribu/kilo.
Sementara di Pasar Tradisional Karawaci Kota Tangerang. Harga telur ayam masih dikisaran Rp23 ribu/kilo, terigu Rp12 ribu/kilo, dan gula pasir Rp14 ribu/kilo.
“Tadi sambil kita belanja dan cek harga beberapa komoditas pangan kondisinya pluktuatif. Kecuali untuk beras kemasan relatif stabil dikisaran Rp65 ribu/5 kilo untuk premium,” kata wakil rakyat di Senayan asal Dapil Banten III Tangerang Raya itu.
Kendati suplai sudah mulai lancar, namun untuk minyak goreng, lanjut Ananta, harganya masih bertahan harga tinggi, baik kemasan maupun curah.
“Untuk kemasan tadi kisarannya Rp50 ribu sampai Rp55 ribu/2 liter. Sementara untuk minyak curah dijual Rp20 ribu/kilo,” ungkap dia.
Ananta mengungkapkan, kunjungan reses ke beberapa pasar di Tangerang dimaksudkan untuk mengecek langsung stok dan harga berbagai komoditas pokok di pasar.
Untuk itu, rencananya, ia akan melakukan kunjungan reses ke pasar-pasar tersebut sebanyak tiga tahap.
Pada tahap pertama, kata ananta, dilakukan pada pertengahan puasa ini, kemudian tiga hari menjelang lebaran, dan terakhir nanti setelah lebaran.
“Nanti hasilnya, saya sebagai Anggota Komisi VI DPR RI akan menyampaikan kepada Menteri Perdagangan dan BUMN yang ngurusin soal pangan ini,” katanya.
"Agar bisa mencarikan solusinya. Bagaimana melakukan pengendalian haraga pangan ini. Kemudian rakyat tidak selalu terbebani kenaikan harga yang semakin menekan kehidupan ekonominya,” sambung Ananta.



