Terbitkan Dua Karya Buku, Legislator PSI Depok Binton Gaungkan Politik Inklusif - Telusur

Terbitkan Dua Karya Buku, Legislator PSI Depok Binton Gaungkan Politik Inklusif

Dua anggota DPRD Kota Depok St Binton Nadapdap dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) (kanan) bersama Qonita Lutfiyah dari PPP (kiri).

telusur.co.id - Dua nama di parlemen Kota Depok tengah menjadi sorotan. St. Binton Nadapdap dan Qonita Lutfiyah tak hanya aktif di ruang sidang, tetapi juga menghadirkan gagasan lewat karya tulis yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam sistem politik Indonesia.

Kolaborasi keduanya melahirkan dua buku: Politik dan Wanita serta Perempuan dalam Sistem Politik Indonesia. Karya tersebut menjadi refleksi pengalaman politik sekaligus panggilan moral untuk mendorong demokrasi yang lebih inklusif dan berkeadilan gender.

St. Binton Nadapdap memulai kiprah politiknya setelah memutuskan pensiun dini dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Ia kemudian dipercaya memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kota Depok dan terpilih menjadi anggota DPRD Kota Depok periode pertamanya.

Dalam proses membangun struktur partai, legislator PSI tersebut menghadapi tantangan konkret terkait pemenuhan kuota minimal 30% keterwakilan perempuan. Dari situlah lahir kegelisahan intelektualnya.

“Perempuan bukan sekadar pelengkap administrasi politik. Mereka adalah kekuatan moral dan intelektual dalam menentukan arah kebijakan publik,” ujarnya dalam keterangannya, Sabtu (28/2/2026). 

Di tengah kesibukannya sebagai legislator, Binton juga menempuh studi doktoral (S3) bidang hukum dan aktif menulis buku. Momentum penghargaannya sebagai Anggota DPRD Kota Depok Terbaik 2025 dari BKD menjadi titik penting yang mempertemukannya dalam kolaborasi serius bersama Qonita.

Di sisi lain, Qonita Lutfiyah merupakan sosok perempuan tangguh dengan rekam jejak tiga periode di DPRD Kota Depok. Ia juga menjabat sebagai Ketua Badan Kehormatan Dewan (BKD), akademisi bergelar doktor, pendidik, sekaligus pengusaha.

Perpaduan pengalaman legislatif dan latar akademiknya membuat Qonita menjadi figur sentral dalam diskursus politik perempuan di tingkat daerah.

Kolaborasi keduanya bermula dari pertemuan sederhana di ruang BKD, saat Binton menyerahkan buku karyanya Filsafat Ilmu kepada Qonita. Dari dialog tersebut lahir komitmen bersama untuk menulis buku yang secara khusus membahas posisi dan perjuangan perempuan dalam sistem politik nasional.

Kedua buku ini juga mendapat dukungan dari kalangan akademik dan politik. Kata pengantar ditulis oleh Dr. Wiwik Sri Widiarty dari Universitas Kristen Indonesia, sementara kata sambutan diberikan oleh Grace Natalie, mantan Ketua Umum PSI.

Bagi Binton dan Qonita, dukungan tersebut mempertegas bahwa perjuangan politik perempuan adalah agenda lintas generasi dan lintas kepemimpinan.

Mereka meyakini, ketika perempuan diberi ruang yang adil dalam sistem politik, kebijakan publik akan menjadi lebih humanis, berimbang, dan berorientasi pada masa depan.

Lewat karya ini, Binton dan Qonita tak sekadar berbicara tentang kuota 30%. Mereka mendorong perubahan paradigma: perempuan bukan pelengkap demokrasi, melainkan fondasi penting dalam kepemimpinan Indonesia ke depan.

"Semoga karya ini menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya perempuan Indonesia, untuk berani masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan. Demokrasi yang sehat membutuhkan kepemimpinan yang inklusif," tutup Binton.

 

Laporan: Malik Sihite


Tinggalkan Komentar