telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan apresiasi kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping atas kontribusi mereka dalam membantu terwujudnya kesepakatan damai antara Washington dan Teheran yang bertujuan mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Pujian tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan The New York Times, beberapa jam setelah ia mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.
Menurut berbagai laporan media Amerika Serikat dan Timur Tengah, nota kesepahaman (MoU) yang terdiri dari 14 poin itu mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan biaya, pelonggaran sanksi AS terhadap Iran, serta pencairan sejumlah aset milik Teheran yang selama ini dibekukan.
Penandatanganan resmi kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Jumat pekan ini. Iran juga disebut akan kembali menegaskan komitmennya untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, sementara pembahasan akhir mengenai program nuklir diharapkan selesai dalam waktu 60 hari.
Trump secara khusus memuji Xi Jinping yang dinilainya turut membantu meredakan ketegangan. Ia bahkan menyebut Presiden China itu sebagai "seorang pria sejati".
"China tidak mengirimkan kapal tanker yang dikawal 20 kapal perusak untuk memecah blokade. Jika itu dilakukan, situasinya bisa membawa Amerika Serikat dan China ke ambang konflik terbuka," ujar Trump.
Sementara itu, Rusia sejak awal konflik AS-Israel melawan Iran terus menyerukan deeskalasi dan mengecam serangan terhadap Teheran sebagai tindakan agresi bersenjata yang tidak beralasan.
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, Trump dan Putin diketahui telah beberapa kali melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon. Pada akhir April, Trump mengungkapkan bahwa pemimpin Kremlin tersebut menawarkan bantuan untuk mengakhiri perang. Pembicaraan terbaru keduanya berlangsung pada Minggu lalu, ketika mereka membahas rancangan memorandum yang hampir rampung.
Moskow juga sempat mengajukan kompromi terkait isu nuklir dengan menawarkan penyimpanan cadangan uranium yang diperkaya Iran di wilayah Rusia. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa usulan tersebut memang telah dibahas, meski Teheran belum siap memasukkannya ke dalam agenda resmi.
"Kami berterima kasih kepada teman-teman Rusia atas tawaran dan niat mereka untuk membantu menyelesaikan masalah ini," kata Araghchi.
Di tengah lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz, Putin menepis anggapan bahwa Rusia menjadi pihak yang paling diuntungkan secara ekonomi dari konflik tersebut.
"Kenaikan harga minyak memang terjadi, tetapi hanya bersifat sementara dan jangka pendek. Kami ingin membangun hubungan jangka panjang dengan para mitra kami. Karena itu, kami berkepentingan agar konflik ini segera berakhir," ujar Putin.
Kesepakatan damai AS-Iran tersebut dipandang sebagai perkembangan penting dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah, sekaligus menunjukkan keterlibatan sejumlah kekuatan besar dunia dalam mendorong penyelesaian diplomatik.



