Viktor Dorong Hilirisasi Pertanian hingga Wisata untuk Dongkrak Ekonomi - Telusur

Viktor Dorong Hilirisasi Pertanian hingga Wisata untuk Dongkrak Ekonomi

Anggota DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat. Sumber foto: ist

telusur.co.id - Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem dari Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur (NTT) II, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan bahwa masa depan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) tidak bisa hanya bergantung pada peningkatan produksi pertanian. Menurutnya, kesejahteraan masyarakat hanya akan terwujud jika pembangunan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sektor pertanian, pendidikan, infrastruktur, industri kreatif hingga pariwisata.

Hal itu disampaikan Viktor saat menggelar reses di Desa Oebelo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS, Rabu (22/7/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati TTS Army Konay, jajaran Pemerintah Kabupaten TTS, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta ratusan warga dari berbagai kecamatan.

"Kalau kita hanya menjadi petani sawah, kita tidak akan maju. Kita harus memiliki sawah sekaligus menjadi pemilik usaha pengolahan dan pemasaran hasilnya. Di negara-negara maju, mereka menguasai semuanya, dari hulu sampai hilir," ujar Viktor.

Viktor memastikan akan terus mendorong pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, agar memperluas program cetak sawah baru di TTS. Desa Oebelo bahkan telah diusulkan menjadi salah satu lokasi prioritas.

Namun, menurut mantan Gubernur NTT itu, pembangunan pertanian tidak boleh berhenti pada perluasan lahan.

Ia menilai petani harus memperoleh nilai tambah melalui pengolahan hasil panen sebelum dipasarkan.

"Kalau kita hanya menjual gabah, kita belum menghitung tenaga kerja yang kita keluarkan. Tetapi kalau kita mengolahnya sampai menjadi makanan yang dijual kepada masyarakat, nilai ekonominya jauh lebih tinggi. Itu yang harus kita bangun," tegasnya.

Karena itu, Viktor mendorong tumbuhnya industri pengolahan pangan, rumah makan, hingga usaha kecil berbasis hasil pertanian yang dikelola masyarakat setempat.

Selain pertanian, Viktor menilai kawasan selatan TTS memiliki potensi wisata yang unik dan langka.

Menurutnya, wisatawan dapat menikmati kawasan pantai beriklim panas, lalu hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam sudah tiba di kawasan pegunungan yang berhawa sejuk.

"Jarang ada tempat seperti Timor Tengah Selatan. Orang bisa menikmati pantai dan kawasan panas, lalu tidak lama kemudian berada di daerah pegunungan yang sangat sejuk. Ini kekayaan alam yang luar biasa dan harus dirancang dengan baik," katanya.

Ia menegaskan potensi tersebut harus dikembangkan melalui perencanaan pembangunan yang terintegrasi agar mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Viktor mengakui pembangunan infrastruktur di TTS masih menghadapi keterbatasan akibat kondisi fiskal nasional yang terdampak situasi ekonomi global.

Meski demikian, ia menegaskan pembangunan jalan, jembatan, dan infrastruktur pendukung lainnya tetap menjadi prioritas yang akan terus diperjuangkan di tingkat pusat.

"Infrastruktur adalah syarat utama daerah bisa maju. Tetapi kita juga harus memahami bahwa kondisi anggaran negara sedang menghadapi tantangan sehingga banyak proyek belum bisa berjalan secepat yang diharapkan," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Viktor menekankan bahwa pendidikan merupakan investasi paling penting untuk memutus rantai kemiskinan.

Ia mendorong generasi muda TTS agar berani menempuh pendidikan di luar daerah guna memperluas wawasan dan pengalaman.

"Sekolah memang tidak otomatis membuat seseorang sukses. Tetapi sekolah memperbesar peluang seseorang untuk sukses. Karena itu anak-anak harus terus didorong belajar dan melihat dunia yang lebih luas," ujarnya.

Viktor juga memastikan Partai NasDem akan terus mendukung pelajar asal TTS yang ingin melanjutkan pendidikan ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta.

Menurut Viktor, kemajuan TTS juga sangat bergantung pada kualitas perempuan sebagai pilar utama keluarga dan masyarakat.

"Kalau perempuan maju, Timor Tengah Selatan juga akan maju. Karena perempuan yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas. Maka pendidikan perempuan harus menjadi prioritas," katanya.

Ia bahkan menyatakan siap membantu anak-anak perempuan yang terkendala biaya pendidikan agar tetap bisa melanjutkan sekolah.

Selain itu, Viktor meminta pemerintah daerah memperkuat pengembangan tenun ikat sebagai identitas budaya sekaligus sumber ekonomi masyarakat. Ia mengusulkan pembentukan pusat pembelian tenun agar para penenun memiliki kepastian pasar.

"Kalau tenun tidak pernah dibeli, orang akan berhenti menenun. Kalau itu terjadi, kita kehilangan identitas budaya kita," ujarnya.

Dalam dialog bersama masyarakat, berbagai aspirasi disampaikan, mulai dari permintaan bantuan bibit bawang merah, alat dan mesin pertanian, pembangunan irigasi, akses jalan, hingga pengembangan komoditas unggulan seperti garam dan asam.

Menutup kegiatan reses, Viktor menegaskan seluruh aspirasi masyarakat akan diperjuangkannya melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan di DPR RI.

"Semua aspirasi yang saya terima hari ini akan saya kawal di tingkat nasional. Pertanian, pendidikan, infrastruktur, pemberdayaan perempuan, pengembangan tenun, hingga hilirisasi ekonomi harus menjadi bagian dari agenda pembangunan TTS. Daerah ini memiliki potensi besar, dan potensi itu harus benar-benar menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat," pungkasnya.


Tinggalkan Komentar