IKI Naik ke 53,56: Industri Manufaktur Tetap Ekspansif di Tengah Rupiah Melemah - Telusur

IKI Naik ke 53,56: Industri Manufaktur Tetap Ekspansif di Tengah Rupiah Melemah

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. Sumber foto: dok Kemenperin

telusur.co.id - Kementerian Perindustrian RI mencatat sektor manufaktur nasional tetap berada pada jalur ekspansi meski menghadapi tekanan global dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 yang naik menjadi 53,56, dari 51,75 pada April 2026.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut kenaikan ini sebagai sinyal kuat bahwa pelaku industri masih optimistis terhadap kondisi ekonomi nasional.

“Ini menunjukkan tingkat kepercayaan pelaku industri manufaktur nasional masih sangat kuat,” ujarnya dikutip dari Kemenperin, Kamis (28/5/2026).

Menurut Kemenperin, salah satu faktor pendorong utama meningkatnya IKI adalah stabilitas harga bahan bakar minyak subsidi yang tidak dinaikkan oleh pemerintah, sehingga inflasi tetap terkendali dan daya beli masyarakat terjaga.

Kebijakan tersebut dinilai turut mendorong permintaan domestik, terutama pada produk manufaktur, yang pada akhirnya meningkatkan aktivitas produksi industri.

Selain itu, inflasi tahunan pada April 2026 tercatat melandai menjadi 2,42 persen (yoy), sementara Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada di level optimistis 123,0. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi nasional.

Kenaikan IKI juga tercermin dari seluruh komponen pembentuk indeks. Variabel produksi naik signifikan menjadi 55,20, tertinggi sejak Januari 2025. Variabel pesanan juga meningkat ke 53,47, sementara persediaan berada di level 51,33—seluruhnya menunjukkan fase ekspansi.

Dari 23 subsektor industri pengolahan, sebanyak 20 subsektor tercatat tumbuh dan menyumbang 97,8 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas triwulan I 2026. Dua subsektor dengan kinerja tertinggi adalah industri pakaian jadi serta industri kertas dan barang dari kertas.

Kemenperin juga mencatat baik industri berorientasi ekspor maupun domestik sama-sama menunjukkan peningkatan optimisme. IKI ekspor naik menjadi 53,73, sementara IKI domestik tumbuh lebih tinggi menjadi 53,46.

“Pasar domestik masih menjadi kekuatan utama industri manufaktur Indonesia dalam menghadapi tekanan global,” kata Febri.

Meski demikian, pelemahan rupiah terhadap dolar AS pada Mei 2026 tetap memberi tantangan, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Namun di sisi lain, kondisi ini juga mendorong pergeseran konsumsi ke produk dalam negeri karena harga barang impor menjadi lebih mahal.

Pertumbuhan positif industri juga sejalan dengan kinerja ekonomi sektor pengolahan nonmigas yang tumbuh 5,14 persen (yoy) pada triwulan I 2026, serta kontribusi ekspor industri yang mencapai US$54,98 miliar atau 82,25 persen dari total ekspor nasional.

Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menegaskan optimisme bahwa sektor manufaktur akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Sementara itu, Dirjen IKMA Reni Yanita menekankan pentingnya penguatan industri kecil dan menengah (IKM), yang masih menghadapi tantangan pada bahan baku, efisiensi produksi, hingga persaingan dengan produk impor di platform digital.

Dengan kondisi ini, pemerintah menilai ketahanan industri nasional masih solid, terutama karena kuatnya permintaan domestik yang terus menopang aktivitas produksi di tengah tekanan global dan fluktuasi nilai tukar.


Tinggalkan Komentar