telusur.co.id -Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan 26 Januari sebagai World Environmental Education Day atau Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Sedunia. Peringatan ini merupakan bagian dari peta jalan Sustainable Development Goals (SDGs) yang bertujuan meningkatkan kesadaran global akan pentingnya pendidikan lingkungan, perlindungan alam, serta mendorong partisipasi aktif lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan bumi.
Memaknai peringatan tersebut, Ascott Waterplace Surabaya menggelar kegiatan edukasi lingkungan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, komunitas, dan sektor swasta. Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Ascott yang sejak 2022 aktif menjalankan program pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan, mulai dari pengembangan UMKM melalui Art & Craft Take Over, persiapan sertifikasi Global Sustainable Tourism Council (GSTC), hingga berbagai kegiatan berbasis lingkungan.
General Manager Ascott Waterplace Surabaya, Handrian Wijaya, menegaskan bahwa seluruh inisiatif tersebut berlandaskan lima pilar keberlanjutan Ascott yang dikenal sebagai Ascott CARES- Community, Alliance, Respect, Environment, dan Supply Chain.
“Ascott CARES menjadi pedoman bagi kami untuk terus berkomitmen dalam pemberdayaan masyarakat, lingkungan tanpa meninggalkan esensi dari pembangunan ekonomi,” ujarnya di sela-sela acara.
Kegiatan World Environmental Education Day ini dihadiri puluhan partisipan dari berbagai latar belakang, mulai dari masyarakat umum, tenaga pendidik, komunitas, hingga sektor swasta. Sejumlah pihak turut terlibat, di antaranya Nol Sampah, Kampung Sadar Wisata Sambiarum, Young Living, dan Klinko.
Selain memaparkan capaian program lingkungan masing-masing, acara ini juga menitikberatkan pada edukasi pengelolaan limbah rumah tangga, khususnya minyak jelantah. Isu ini dinilai penting mengingat sebagian besar sampah berasal dari aktivitas domestik.
Co-founder Nol Sampah, Hanie Ismail, menjelaskan bahwa rumah tangga memiliki peran besar dalam pengurangan sampah.
“Sebanyak 56% lebih sampah yang dihasilkan kebanyakan dari rumah tangga, kemudian disusul oleh sampah dari pasar sebanyak 13% dan ini membuktikan bahwa kita bisa memulai semuanya dari rumah kita sendiri,” ujarnya dalam pemaparan.
Seiring meningkatnya produksi minyak kelapa sawit dan penggunaannya sebagai bahan konsumsi, jumlah limbah minyak jelantah di Indonesia juga terus bertambah. Berdasarkan data dari berbagai sumber, diperkirakan sekitar 6,6 juta kiloliter minyak berakhir sebagai limbah. Kondisi ini menuntut partisipasi aktif masyarakat agar pengelolaan limbah dapat dimulai dari tingkat akar rumput.
Ketua Kampung Sambiarum sekaligus instruktur pembuatan lilin dari minyak jelantah, Wahyu Oktorianto, menjelaskan bahwa pengolahan limbah tersebut dapat dilakukan secara sederhana. Minyak jelantah cukup dibersihkan melalui proses penyaringan dengan perendaman arang, lalu dicampurkan dengan bahan pemadat seperti stearic acid (stearin) atau palm wax hingga larut.
“Proses pembuatan lilin minyak jelantah mandiri ini selain fleksibel, kita juga bisa menambahkan minyak esensial, sehingga bisa menjadi lilin aromaterapi, seperti pada lilin kali ini yang kita campur dengan minyak esensial Young Living,” ujarnya dengan sumringah.
Kampung Sambiarum Berwarna bersama Nol Sampah dikenal sebagai pionir kolaborasi komunitas dalam mewujudkan kampung ramah lingkungan. Kedua komunitas ini tidak hanya mendorong keterlibatan warga Surabaya dalam pelestarian lingkungan, tetapi juga memastikan partisipasi generasi muda agar gerakan tersebut berkelanjutan. Berbagai kegiatan rutin dilakukan, salah satunya Camp di Kampung, yakni program berkemah yang mengajarkan anak-anak tentang aktivitas kreatif ramah lingkungan, pemilahan sampah, dan konservasi alam.
Sementara itu, kontribusi sektor swasta juga menjadi sorotan dalam acara ini. Klinko menunjukkan praktik bisnis berkelanjutan dengan mengolah limbah pakaian menjadi produk tas kerajinan. Adapun Young Living hadir sebagai pelopor bisnis berbasis bahan alam dengan proses produksi ramah lingkungan yang melibatkan komunitas lokal dan berbasis ekologi.
Perwakilan Young Living Indonesia, Putri Panca, menyampaikan bahwa nilai-nilai acara ini sejalan dengan visi perusahaan.
“Acara ini sekaligus menjadi bukti bahwa apa yang dihasilkan alam, dapat kita olah kembali menjadi sesuatu yang berharga, selaras dengan apa yang Young Living percaya selama ini,” tuturnya.
Melalui peringatan World Environmental Education Day 2026, Ascott Waterplace Surabaya menegaskan perannya sebagai ruang kolaborasi yang mendorong kesadaran, edukasi, dan aksi nyata demi lingkungan yang berkelanjutan serta masyarakat yang lebih berdaya.



