telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan membatalkan agenda liburan akhir pekannya ke resor golf pribadinya di New Jersey dan memilih tetap berada di Washington di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Keputusan itu juga membuat Trump absen dalam pernikahan putra sulungnya, Donald Trump Jr., dengan Bettina Anderson yang digelar di Bahama pada Jumat.
Trump menilai situasi konflik dengan Iran telah memasuki fase penting sehingga membutuhkan kehadirannya langsung di Gedung Putih. Melalui unggahan di Truth Social, ia menegaskan keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab terhadap negara.
Ketegangan yang terus meningkat membuat agenda pribadi presiden ikut terdampak. Konflik Iran kini disebut mendominasi hampir seluruh aktivitas pemerintahan AS, termasuk urusan keluarga Trump sendiri.
Pada Jumat, Trump menggelar pertemuan keamanan nasional bersama sejumlah pejabat tinggi pemerintahan. Hadir dalam rapat tersebut antara lain Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.
Pertemuan di Ruang Oval itu difokuskan untuk mengevaluasi perkembangan terbaru sekaligus membahas berbagai opsi yang dapat ditempuh Washington apabila situasi dengan Teheran semakin memburuk.
Di sisi lain, jalur diplomasi masih terus berjalan meski berlangsung lambat. Delegasi dari Qatar dan Pakistan diketahui melakukan kunjungan ke Teheran guna membantu menjembatani komunikasi antara AS dan Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengakui masih terdapat perbedaan besar antara kedua negara, terutama terkait program nuklir Iran, pencabutan sanksi, hingga mekanisme verifikasi kesepakatan.
Trump sendiri dikabarkan sempat mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran sebelum akhirnya menunda langkah tersebut atas permintaan sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.
Presiden AS itu kini memberi tekanan kepada Teheran untuk segera mengajukan proposal yang dianggap kredibel dalam beberapa hari ke depan. Namun hingga akhir pekan, belum ada tanda-tanda kuat bahwa kesepakatan akan segera tercapai.
Situasi tersebut membuat Gedung Putih terus bersiaga penuh, sementara pemerintahan Trump mempertaruhkan kredibilitas politik dan diplomatiknya dalam menentukan arah akhir konflik dengan Iran.



