telusur.co.id - Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menegaskan bahwa penanganan Tuberkulosis dan HIV/AIDS masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan nasional.
Hal tersebut disampaikan Felly saat memimpin Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IX DPR RI di Surabaya, Kamis (21/5/2026).
Menurutnya, persoalan TB dan HIV/AIDS tidak hanya berkaitan dengan aspek medis, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, stigma, diskriminasi, kepatuhan pengobatan, hingga kondisi kesehatan jiwa pasien.
“Tuberkulosis dan HIV/AIDS masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan kesehatan nasional. Keduanya bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor sosial, ekonomi, stigma, diskriminasi, kepatuhan pengobatan, serta kondisi kesehatan jiwa pasien,” ujar Felly.
Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan eliminasi TB pada 2030 dengan menurunkan angka insiden menjadi 65 kasus per 100 ribu penduduk serta angka kematian akibat TB menjadi enam kasus per 100 ribu penduduk.
Sementara untuk HIV/AIDS, strategi nasional diarahkan pada target eliminasi melalui pendekatan 95-95-95, yakni 95 persen penderita mengetahui statusnya, 95 persen menjalani pengobatan, dan 95 persen mencapai supresi virus.
Dalam pengawasan tersebut, Komisi IX menilai Surabaya memiliki posisi strategis sebagai kota metropolitan terbesar di Jawa Timur dengan mobilitas penduduk tinggi dan akses layanan kesehatan yang relatif lengkap.
Namun demikian, Felly menyoroti masih adanya tantangan dalam penanganan TB, terutama pada penemuan kasus aktif, investigasi kontak, dan terapi pencegahan.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Surabaya tahun 2025, capaian penemuan kasus aktif TB baru mencapai 68,87 persen. Sementara investigasi kontak berada di angka 83,63 persen dan cakupan terapi pencegahan TB masih 26,64 persen.
“Data ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam penemuan kasus, investigasi kontak, serta percepatan akses diagnosis dan pengobatan,” tegas legislator Fraksi Partai NasDem tersebut.
Komisi IX juga menerima pemutakhiran data penanganan TB sepanjang Januari–April 2026. Dari estimasi 11.412 kasus TB di Surabaya, baru ditemukan sekitar 2.913 kasus TB sensitif obat atau 26,30 persen. Sedangkan pada kategori TB resistan obat, dari estimasi 335 kasus baru ditemukan 84 kasus.
Selain TB, DPR turut menyoroti penanganan HIV/AIDS di Surabaya. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, tercatat sebanyak 985 kasus HIV/AIDS ditangani, dengan lebih dari separuh pasien berasal dari luar Surabaya.
Felly menilai kondisi tersebut menunjukkan Surabaya menjadi pusat layanan rujukan penting bagi penanganan HIV di berbagai daerah sekitar.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan skrining dua arah antara pasien TB dan HIV guna menekan risiko komplikasi akibat koinfeksi kedua penyakit tersebut.
“Pasien TBC perlu mengetahui status HIV-nya, dan pasien HIV juga perlu menjalani skrining TBC. Skrining dua arah ini penting karena koinfeksi TB-HIV dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian,” ujarnya.
Karena itu, Komisi IX DPR RI memastikan pengawasan terhadap penanganan TB dan HIV/AIDS tidak hanya berfokus pada layanan klinis, tetapi juga mencakup penguatan penemuan kasus aktif, investigasi kontak, skrining kelompok risiko tinggi, serta kolaborasi layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



