telusur.co.id - Ferrari mungkin sedang memasuki era baru. Mobil listrik pertama pabrikan legendaris asal Italia itu, Ferrari Luce, langsung mencatat kesuksesan besar di China setelah seluruh alokasi awal sebanyak 88 unit ludes terjual hanya dalam waktu singkat.
Fenomena tersebut menunjukkan satu hal: pasar otomotif terbesar di dunia ternyata siap menerima Ferrari tanpa suara raungan mesin V8 maupun V12 yang selama puluhan tahun menjadi identitas merek Kuda Jingkrak tersebut.
Namun bukan hanya mobilnya yang menarik perhatian. Harga Ferrari Luce di China ternyata menyimpan makna khusus yang diyakini menjadi bagian dari strategi pemasaran Ferrari.
Ferrari membanderol Luce dengan harga 3.988.000 yuan atau sekitar Rp10,5 miliar. Angka tersebut bukan dipilih semata-mata karena pertimbangan bisnis atau konversi mata uang.
Dalam budaya Tiongkok, urutan angka 3-9-8-8 memiliki makna keberuntungan yang sangat kuat.
Jika dibaca secara fonetik dalam bahasa Mandarin, kombinasi angka tersebut terdengar menyerupai ungkapan yang berarti "kekayaan dan kemakmuran abadi sepanjang hidup."
Tak hanya harga, jumlah unit yang dipasarkan pun tampaknya dipilih dengan pertimbangan serupa. Ferrari hanya menyediakan 88 unit untuk pasar China pada tahap pertama, memanfaatkan angka delapan yang identik dengan keberuntungan dan kemakmuran dalam budaya setempat.
Strategi itu terbukti efektif. Seluruh unit langsung habis diburu para konsumen ultra-kaya di Negeri Tirai Bambu.
Ferrari Paling Kontroversial dalam Sejarah?
Meski sukses di pasar, perjalanan Ferrari Luce menuju konsumen tidak sepenuhnya mulus.
Ketika pertama kali diperkenalkan di Roma pada Mei 2026, mobil listrik empat pintu tersebut memicu perdebatan di kalangan penggemar Ferrari.
Desainnya yang lebih praktis sebagai grand tourer lima penumpang dianggap terlalu jauh meninggalkan DNA Ferrari yang identik dengan supercar rendah, agresif, dan berorientasi lintasan balap.
Kritik semakin keras karena Luce dirancang oleh mantan desainer Apple, Jony Ive, yang menghadirkan pendekatan desain minimalis dan sederhana yang berbeda dari karakter Ferrari selama ini.
Respons negatif tersebut bahkan sempat mengguncang pasar dan menyebabkan harga saham Ferrari turun lebih dari enam persen hanya dalam sehari.
Situasi itu membuat Ferrari melakukan perubahan besar di jajaran pemasaran dengan mengganti Enrico Galliera dengan mantan eksekutif BMW Italia, Massimiliano Di Silvestre.
Tak Sekencang Rival China, Tapi Tetap Diburu
Secara teknis, Ferrari Luce bahkan bukan mobil listrik tercepat di China.
Produsen lokal seperti BYD melalui Yangwang U9 menawarkan akselerasi lebih cepat, tenaga lebih besar, serta kemampuan pengisian daya yang lebih baik dengan harga hampir setengah dari Ferrari Luce.
Sementara itu, Hyptec SSR buatan GAC bahkan mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam hanya dalam 1,9 detik dengan harga mulai sekitar Rp3,4 miliar.
Namun bagi para pembeli Ferrari, angka performa tampaknya bukan faktor utama.
Bagi kelompok ultra-kaya di China, Ferrari tetap lebih dari sekadar kendaraan. Mobil tersebut merupakan simbol status, prestise, dan gaya hidup.
Di sisi lain, penggunaan tenaga listrik kini dipandang sebagai evolusi alami dari kemewahan modern.
Ferrari tampaknya memahami perubahan tersebut dengan sangat baik.
Dengan Luce, pabrikan asal Maranello itu tidak berusaha menggantikan supercar tradisional mereka, melainkan membuka pintu menuju generasi konsumen baru yang menginginkan perpaduan antara kemewahan, teknologi, dan keberlanjutan.
Dan setidaknya di China, taruhan besar Ferrari tersebut tampaknya mulai membuahkan hasil.



