GMNI Ingatkan Dampak Geopolitik Konflik Timur Tengah terhadap Stabilitas Dunia - Telusur

GMNI Ingatkan Dampak Geopolitik Konflik Timur Tengah terhadap Stabilitas Dunia

Ketua Bidang Politik DPP GMNI, Dhipa Satwika Oey

telusur.co.id - Memanasnya ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan maupun stabilitas dunia. Situasi ini tidak hanya dipandang sebagai konflik regional, tetapi juga mencerminkan tarik-menarik kepentingan geopolitik yang luas.

Dewan Pimpinan Pusat GMNI menilai perkembangan situasi tersebut perlu mendapat perhatian serius dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Ketua Bidang Politik DPP GMNI, Dhipa Satwika Oey menegaskan bahwa, konflik di kawasan Timur Tengah selama ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika hegemoni politik global yang terus memengaruhi arah hubungan internasional.

“Ketegangan yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa Timur Tengah masih menjadi kawasan yang sangat rentan terhadap perebutan pengaruh geopolitik. Ketika kepentingan negara-negara besar saling berhadapan, potensi eskalasi konflik tentu semakin terbuka,” papar Dhipa pada keterangan tertulisnya. Sabur, (07/3/2026) pagi.

Menurutnya, eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang juga melibatkan kepentingan Amerika Serikat berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas apabila tidak segera diredam. Situasi tersebut tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan politik global.

“Konflik seperti ini tidak berdiri sendiri. Ketika rivalitas geopolitik semakin tajam, dampaknya dapat menjalar ke berbagai kawasan dan memperbesar ketegangan dalam hubungan internasional,” sambungnya.

GMNI juga menyoroti potensi munculnya krisis kemanusiaan akibat konflik yang terus berlarut. Dalam berbagai konflik yang terjadi di banyak negara, masyarakat sipil hampir selalu menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

“Pengalaman di berbagai konflik menunjukkan bahwa masyarakat sipil sering kali menjadi korban paling besar. Karena itu, upaya penyelesaian melalui dialog dan diplomasi harus terus didorong agar dampak kemanusiaan yang lebih luas dapat dihindari,” tutur pria asli kelahiran Balikpapan ini.

Selain itu, ketegangan di Timur Tengah juga dinilai memiliki implikasi besar terhadap stabilitas energi dunia. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi global, sehingga setiap gejolak yang terjadi berpotensi memengaruhi harga energi internasional.

Dhipa menilai kondisi tersebut pada akhirnya dapat berdampak terhadap perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia. Fluktuasi harga energi dunia dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi nasional, mulai dari industri hingga daya beli masyarakat.

“Gejolak geopolitik di kawasan yang menjadi pusat energi dunia tentu akan berdampak pada stabilitas ekonomi global. Indonesia juga tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh dinamika tersebut,” tandas alumnus FH Ubaya ini. 

Dalam konteks itu, Dewan Pimpinan Pusat GMNI menilai Indonesia seharusnya tidak hanya bersikap pasif terhadap perkembangan situasi global. Sebagai negara yang selama ini menjunjung tinggi prinsip perdamaian dunia dan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia dinilai perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

“Indonesia tidak seharusnya hanya menjadi penonton ketika konflik global berpotensi mengganggu stabilitas dunia. Prinsip bebas aktif yang selama ini menjadi dasar politik luar negeri Indonesia justru menuntut adanya peran yang lebih aktif dalam mendorong diplomasi dan dialog internasional,” tambahnya.

Ia menilai langkah diplomasi melalui forum-forum internasional perlu terus diperkuat sebagai upaya mendorong de-eskalasi konflik. Peran Indonesia dalam mendorong dialog antar negara dinilai penting untuk menjaga stabilitas global.

Lebih jauh, GMNI juga menekankan pentingnya peran gerakan mahasiswa dalam melihat dinamika geopolitik dunia. Dalam pandangan organisasi tersebut, mahasiswa perlu memiliki kesadaran politik global yang kuat agar mampu memahami hubungan antara perkembangan internasional dengan kepentingan nasional.

“Gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk tetap kritis terhadap berbagai ketimpangan dalam tatanan politik global. Dalam semangat nasionalisme, mahasiswa perlu terus mendorong terciptanya perdamaian dunia dan hubungan internasional yang adil,” tutup keturunan Sarang Musa ini. (ari)


Tinggalkan Komentar