telusur.co.id - Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan Prancis untuk tidak mendukung agresor yaitu Amerika Serikat dan Israel. Sebab, jika Prancis mendukung AS, akan dianggap sebagai partisipasi dalam konflik yang sedang berlangsung.
Dalam percakapan telepon pada hari Minggu (8/3/2026), Pezeshkian dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, membahas perkembangan regional menyusul perang yang dipaksakan dan ilegal oleh AS - Israel.
Pezeshkian menyatakan bahwa AS, untuk kedua kalinya selama negosiasi, melancarkan serangan ilegal terhadap Iran berkoordinasi dengan Israel, dan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.
Ia juga menyinggung serangan terhadap target sipil, termasuk sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur penting.
Pezeshkian menekankan bahwa semua tindakan yang diambil oleh Iran berada dalam kerangka membela diri. Ia memperingatkan bahwa keterlibatan negara lain, termasuk Prancis, baik ofensif maupun defensif, dalam mendukung para penyerang akan dianggap sebagai partisipasi langsung dalam perang, demikian dikutip dari Kantor Berita Tasnim.
Pezeshkian melanjutkan, tindakan seperti itu hanya akan memperumit dan memperburuk situasi di kawasan tersebut. Dan, pemerintah, rakyat, serta Angkatan Bersenjata Iran tetap teguh bertekad membela negara.
Sementara itu, Macron menyatakan penyesalan atas hilangnya nyawa warga sipil Iran dan menyatakan bahwa Prancis menganggap serangan tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional. Dia, menambahkan, Prancis tidak terlibat dalam konflik tersebut.
Kedua presiden juga membahas masalah konsuler, termasuk isu-isu terkait warga negara yang ditahan di kedua negara.[Nug]



