Kabinet Bayangan hingga Akademisi Bergabung dalam Upacara Rakyat di Pati - Telusur

Kabinet Bayangan hingga Akademisi Bergabung dalam Upacara Rakyat di Pati

Upacara Rakyat yang berlangsung di Bukit Selo Montro, Desa Kedumulyo, Pati, diikuti warga, petani, serta sejumlah kelompok masyarakat sipil. Sumber foto: Ist

telusur.co.id - Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah, diwarnai gelaran Upacara Rakyat, Senin (17/8/2026). Upacara yang berlangsung di Bukit Selo Montro, Desa Kedumulyo, Kecamatan Sukolilo, itu diikuti warga, petani, serta sejumlah kelompok masyarakat sipil.

Upacara dipimpin tokoh masyarakat Kendeng, Gunretno. Selain warga dan petani yang selama lebih dari 20 tahun memperjuangkan kelestarian Pegunungan Kendeng.

Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Kabinet Bayangan, Konferensi Republik, Forum Intelektual Antar-Disiplin (FIAD), Koperasi Indonesia Baru, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, serta Pengurus Masjid Nurul Asri.

Dari Kabinet Bayangan, hadir Bhima Yudhistira sebagai Menteri Keuangan dan Tata Kelola Anggaran, Media Askar sebagai Menteri Perekonomian, Nabiyla Risfa Izzati sebagai Menteri Sosial dan Layanan Dasar, serta Isnawati Hidayah sebagai Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan.

Media Askar mengatakan, kehadiran mereka merupakan bagian dari upaya menghubungkan berbagai kelompok masyarakat yang selama ini bergerak di isu masing-masing.

“Kehadiran kami untuk menjadi bagian dari simpul-simpul gerakan rakyat agar saling terhubung,” ujar dia dalam keterangannya.

Sejumlah akademisi juga hadir dalam kegiatan tersebut. Dari Konferensi Republik hadir Yanuar Nugroho, sedangkan dari FIAD terdapat Zainal Arifin Muchtar dan Bivitri Susanti.

Bivitri bilang, kondisi yang dihadapi masyarakat saat ini membutuhkan keterlibatan dan persatuan berbagai kelompok.

“Di tengah situasi negara yang sangat menyulitkan warga, seluruh kelompok harus bersatu dalam setiap perjuangan warga,” tutur dia.

Sementara Yanuar mengungkapkan, keterlibatan masyarakat dalam perjuangan warga merupakan bagian dari upaya memaknai kemerdekaan.

“Terlibat dalam upaya warga memaknai kemerdekaan sebagai keberanian untuk membayangkan dan mewujudkan masa depannya sendiri,” terang dia.

Penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono, turut hadir mewakili Koperasi Indonesia Baru. Kehadiran kelompok masyarakat sipil tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang oleh penyelenggara disebut sebagai simbol gerakan rakyat untuk mendorong perubahan setelah 81 tahun Indonesia merdeka.

Di sisi lain, Gunretno menuturkan, Upacara Rakyat tersebut digelar untuk mengingatkan kembali pentingnya menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Upacara ini ada untuk mewujudkan Pancasila tidak sekadar teks,” papar dia.

Zainal Arifin Muchtar menilai, peringatan kemerdekaan juga perlu dilihat dari perspektif masyarakat.

“Perlu untuk mengilhami bagaimana cara rakyat melihat kemerdekaan, bukan hanya cara negara melihat kemerdekaan,” sebut dia.

Dalam kesempatan itu, sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat desa turut disoroti. Di antaranya kondisi ekonomi, kebijakan terkait Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), persoalan kesejahteraan pekerja dan ASN, serta penanganan bencana dan kerusakan lingkungan.

Lebih jauh, mereka menerangkan berbagai persoalan tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat di tingkat bawah.

Pati disebut menjadi salah satu wilayah yang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun gerakan bersama untuk memperjuangkan kepentingannya.

Upacara Rakyat di Bukit Selo Montro pun ditutup dengan pesan agar semangat kemerdekaan tidak berhenti pada seremoni tahunan, tetapi diwujudkan melalui keterlibatan masyarakat dalam menentukan masa depan lingkungannya dan Indonesia.

 

Editor: Farouq Iskandar


Tinggalkan Komentar