Khamenei Pesimistis soal Negosiasi, Iran Klaim Ada Kemajuan Prinsip dengan AS - Telusur

Khamenei Pesimistis soal Negosiasi, Iran Klaim Ada Kemajuan Prinsip dengan AS

Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. foto AP

telusur.co.id - Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, menyampaikan nada pesimistis terhadap kemungkinan negosiasi bermakna dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meskipun tim diplomasi Teheran mengklaim telah ada kemajuan dalam pembahasan prinsip-prinsip dasar kesepakatan.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Khamenei menyinggung pernyataan Trump yang menyebut perubahan pemerintahan akan menjadi “hal terbaik” bagi Iran. Ia mengatakan bahwa Washington telah lama berupaya menjatuhkan rezim teokratis Iran sejak Revolusi Islam 1979, namun gagal.

“Ini adalah pengakuan yang baik. Anda juga tidak akan mampu melakukan ini,” ujar Khamenei, seraya menegaskan bahwa bangsa Iran tidak akan tunduk pada apa yang ia sebut sebagai kepemimpinan korup di Amerika Serikat.

Ia juga menggunakan simbolisme keagamaan dengan merujuk pada sejarah awal Islam Syiah untuk menekankan bahwa Iran tidak akan berkompromi dalam prinsip-prinsip dasarnya. Menurut Khamenei, jika negosiasi benar-benar dilakukan, pembicaraan tersebut tidak bisa didasarkan pada tuntutan “bodoh” seperti penghentian total pengayaan uranium.

Komentar Khamenei muncul hanya beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan hasil pembicaraan tidak langsung dengan AS di Jenewa. Ia menggambarkan suasana diskusi sebagai “serius” dan “konstruktif”.

“Kami telah melakukan diskusi yang sangat serius… Kami mencapai beberapa kesepakatan dan beberapa prinsip panduan. Kami akhirnya akan menyusun dokumen,” kata Araghchi kepada wartawan usai pertemuan tersebut.

Pembicaraan itu dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad al-Busaidi, yang mempertemukan kedua delegasi secara terpisah. Selain itu, Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Grossi, juga terlibat dalam rangkaian pertemuan, mengingat peran lembaganya dalam inspeksi fasilitas nuklir Iran di masa depan.

Dari pihak AS, utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Trump, Jared Kushner, dilaporkan berperan sebagai perwakilan utama dalam jalur diplomasi tersebut.

Teheran menegaskan keseriusannya dalam pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Oman, dengan tujuan utama pencabutan sanksi keras yang diberlakukan Washington sejak 2018, ketika Trump secara sepihak menarik AS dari kesepakatan nuklir yang sebelumnya disepakati Iran bersama negara-negara besar dunia.

Meski ada sinyal kemajuan teknis di meja perundingan, pernyataan keras Khamenei menegaskan bahwa jalan menuju kesepakatan baru masih dibayangi ketidakpercayaan mendalam antara kedua negara. [ham]

Al Jazeera


Tinggalkan Komentar