telusur.co.id - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyerukan penghentian operasi militer di kawasan Timur Tengah selama periode hari raya keagamaan. Ia menilai jeda konflik penting untuk membuka kembali ruang negosiasi dalam menyelesaikan ketegangan dengan Iran.
“Saat kawasan ini memasuki musim hari raya keagamaan, saya pikir semua orang harus tenang dan operasi militer harus dihentikan setidaknya selama beberapa hari untuk memberi kesempatan lain bagi negosiasi,” ujar Macron menjelang KTT para pemimpin Uni Eropa.
Seruan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi konflik setelah operasi militer oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan itu disebut menargetkan sejumlah lokasi strategis di Teheran dan wilayah lain, yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah, memperluas ketegangan regional.
Konflik ini bermula dari klaim AS dan Israel yang menyebut serangan mereka sebagai tindakan “preemptif” untuk menghadapi ancaman program nuklir Iran. Namun, kedua negara tersebut juga mengisyaratkan keinginan perubahan kekuasaan di Teheran.
Macron menekankan bahwa momentum hari raya, termasuk Idul Fitri yang jatuh pada 20 Maret, dapat menjadi peluang penting untuk meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur diplomasi.
Seruan Prancis ini menambah tekanan internasional agar pihak-pihak yang bertikai segera menghentikan eskalasi dan kembali ke meja perundingan demi mencegah konflik yang lebih luas di kawasan. [ham]



