telusur.co.id - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menilai perang yang berlangsung selama 40 hari terakhir telah mengubah secara mendasar cara negara-negara di kawasan Teluk Persia memandang keamanan. Menurutnya, konflik tersebut justru menunjukkan bahwa keberadaan pasukan dan pangkalan militer asing bukan jaminan keamanan, melainkan dapat menjadi sumber ketidakstabilan.
Dilansir kantor berita IRNA (Selasa (18/8/2026), pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam wawancara dengan Wakil Presiden Iran bidang Komunikasi yang diterbitkan pada Selasa.
Araghchi mengatakan, sebelum konflik terbaru, sejumlah negara di kawasan masih mengandalkan kekuatan militer asing sebagai penopang keamanan. Namun, perang disebut telah memperlihatkan kelemahan mendasar dari pendekatan tersebut.
"Dalam pandangan sebelumnya, ada ketergantungan pada pasukan asing untuk menyediakan keamanan," ujar Araghchi.
"Namun perang baru-baru ini menunjukkan bahwa pasukan asing dan pangkalan asing tidak hanya gagal membawa keamanan, tetapi justru menjadi sumber ketidakamanan."
Iran Dorong Konsep Keamanan Kolektif
Menurut Araghchi, pengalaman selama perang telah mendorong munculnya kesadaran baru di antara negara-negara Teluk Persia.
Ia mengklaim negara-negara yang tidak menjadi lokasi instalasi militer Amerika Serikat mengalami dampak konflik yang lebih kecil dibandingkan negara-negara yang menjadi tuan rumah pasukan AS.
Araghchi juga menuding keberadaan pasukan Amerika di kawasan pada akhirnya lebih diarahkan untuk melindungi Israel dibandingkan memberikan perlindungan kepada negara tempat pasukan tersebut berada.
Atas dasar itu, Iran mendorong konsep keamanan yang lebih mengandalkan kerja sama antarnegara di kawasan.
"Kini muncul pemahaman yang lebih akurat dan tepat bahwa keamanan di Teluk Persia pada dasarnya harus bersifat kolektif dan harus mencakup dimensi ekonomi," katanya.
Keamanan Tak Bisa Dipisahkan dari Ekonomi
Araghchi menekankan bahwa keamanan kawasan tidak dapat dibangun hanya melalui kekuatan militer.
Menurut dia, ketimpangan ekonomi antarnegara juga berpotensi menjadi sumber ketidakstabilan sehingga harus menjadi bagian dari pembahasan mengenai keamanan regional.
"Mustahil untuk mencapai perdamaian abadi dengan ketidakseimbangan ekonomi di antara negara-negara regional, sama seperti mustahil untuk mencapai keamanan kolektif yang berkelanjutan di tengah ketidakamanan dan ketidakseimbangan regional," ujarnya.
Iran, kata Araghchi, kini berupaya memperkuat komunikasi dengan negara-negara di sekitar Teluk Persia untuk membangun pola hubungan baru.
"Dengan pandangan baru dan komunikasi yang lebih segar ini, saya yakin kita memiliki jalan yang baik ke depan," katanya.
Qatar Disebut Punya Peran Penting
Dalam upaya diplomasi tersebut, Araghchi secara khusus menyebut Qatar sebagai salah satu negara yang memainkan peran penting.
Ia mengatakan Qatar telah terlibat secara resmi dalam proses mediasi antara Iran dan Amerika Serikat, bersama Pakistan.
"Salah satu negara yang harus saya sebutkan adalah Qatar, yang secara eksplisit dan formal terlibat dalam mediasi antara kami dan Amerika Serikat, memainkan peran yang sangat penting bersama Pakistan," ujar Araghchi.
Selain Qatar dan Pakistan, Iran disebut telah membuka komunikasi dengan sejumlah negara lain di kawasan.
Araghchi optimistis perkembangan tersebut dapat menjadi awal perubahan besar dalam hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia.
Iran Bicara Era Baru di Teluk
Araghchi berharap perubahan persepsi mengenai keamanan tersebut tidak berhenti pada masa perang, tetapi berkembang menjadi fondasi hubungan baru di kawasan.
Iran, menurutnya, ingin membangun hubungan yang lebih erat dengan negara-negara Teluk melalui komunikasi, kerja sama ekonomi, dan mekanisme keamanan bersama.
Ia pun menyatakan keyakinannya bahwa hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia ke depan dapat memasuki fase yang lebih positif.
Bagi Teheran, perang selama 40 hari tersebut bukan hanya meninggalkan dampak militer dan politik, tetapi juga menjadi momentum untuk mempertanyakan kembali model keamanan kawasan yang selama ini bertumpu pada kehadiran kekuatan asing.



