telusur.co.id - Di tengah upaya penyelamatan korban gempa dahsyat yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, fakta mengejutkan mulai terungkap. Seorang pakar gempa dari Universitas Kyoto menjelaskan bahwa bencana tersebut memiliki karakteristik yang sangat berbahaya karena menghasilkan gelombang seismik yang mampu menghancurkan bangunan kayu dalam waktu singkat.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang wilayah barat daya Jepang pada Selasa (28/7/2026) itu tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memunculkan kekhawatiran akan potensi runtuhnya bangunan yang masih berdiri akibat gempa susulan.
Getaran Mematikan yang Jarang Terjadi
Profesor Sakai Yuki, pakar getaran seismik dan ketahanan bangunan dari Institut Riset Mitigasi Bencana Universitas Kyoto, mengungkapkan hasil analisis terhadap data seismometer yang dipasang di Kumamoto dan wilayah sekitarnya.
Menurutnya, gempa tersebut menghasilkan gelombang seismik berperiode pendek, yakni getaran dengan periode antara satu hingga dua detik. Jenis gelombang seperti ini dikenal sangat berbahaya bagi bangunan kayu dan struktur bangunan hingga sekitar 10 lantai.
"Karakter getaran seperti ini dapat memberikan tekanan yang sangat besar terhadap struktur bangunan sehingga meningkatkan risiko kerusakan serius," jelas Sakai.
Intensitas Maksimum, Bangunan Kayu Terancam Hancur
Gempa Selasa sore itu juga tercatat mencapai intensitas 7, level tertinggi dalam skala intensitas seismik Jepang.
Sakai menyebut jenis getaran paling kuat terdeteksi di Kota Uto, Yatsushiro, dan Uki, yang berada di Prefektur Kumamoto.
Yang lebih mengkhawatirkan, ia mengatakan pola getaran tersebut baru kembali tercatat setelah gempa besar yang melanda Semenanjung Noto pada 2024.
Artinya, Jepang kembali menghadapi salah satu jenis gempa yang memiliki potensi merusak paling tinggi terhadap bangunan konvensional.
Gedung Tinggi Juga Berisiko
Tak hanya bangunan kayu, analisis Sakai menunjukkan adanya gelombang seismik dengan periode yang lebih panjang di wilayah Yatsushiro dan Uki.
Jenis getaran ini berpotensi memengaruhi gedung-gedung bertingkat tinggi, bangunan dengan cerobong asap, hingga struktur yang menggunakan sistem peredam gempa.
Dengan kata lain, dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh rumah-rumah tradisional, tetapi juga bangunan modern yang memiliki karakteristik tertentu.
Ancaman Belum Berakhir
Peringatan paling serius justru datang setelah guncangan utama berhenti.
Sakai menegaskan bahwa sejumlah bangunan yang masih berdiri bukan berarti benar-benar aman. Struktur yang sudah mengalami kerusakan bisa saja roboh hanya karena diguncang gempa susulan yang lebih kecil.
Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak mendekati bangunan yang tampak retak, miring, atau mengalami kerusakan pada bagian struktur.
"Bangunan yang selamat dari guncangan utama masih berpotensi runtuh jika terjadi gempa susulan," tegasnya.
Warga Diminta Tetap Waspada
Hingga kini aktivitas seismik di wilayah Kumamoto masih terus berlangsung. Otoritas Jepang bersama tim penyelamat tetap bersiaga menghadapi kemungkinan gempa susulan yang dapat memperburuk kondisi bangunan yang telah melemah.
Peringatan dari para ahli menjadi pengingat bahwa bahaya gempa tidak berhenti ketika guncangan utama berakhir. Ancaman reruntuhan bangunan dan gempa susulan masih membayangi warga di wilayah terdampak.
Di tengah proses evakuasi dan pencarian korban, masyarakat diimbau untuk terus mengikuti arahan pemerintah, menghindari bangunan yang rusak, serta tetap waspada hingga aktivitas seismik benar-benar mereda.



