telusur.co.id - Perang antara Republik Islam Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026 masih terus berlangsung hingga kini. Di tengah eskalasi konflik yang kian intens dan meningkatnya korban jiwa, Iran dinilai tetap mampu bertahan meski kehilangan sejumlah tokoh penting.
Beberapa figur kunci yang dilaporkan gugur antara lain Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Namun demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta melemahkan daya tahan Iran dalam menghadapi tekanan.
Pengamat Hubungan Internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra, menilai ketahanan Iran tidak bisa dilepaskan dari fondasi ideologi yang telah mengakar kuat dalam sistem negara dan membentuk karakter masyarakatnya.
“Kekuatan perlawanan Iran terhadap tekanan Amerika Serikat dan Israel tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi berakar pada ideologi Islam yang menjadi dasar negara,” ujar Rizal, Kamis (26/3/2026).
Menurutnya, ideologi tersebut menjadi faktor utama yang menjaga konsistensi Iran, bahkan ketika mengalami kehilangan pada level kepemimpinan.
“Meski sejumlah pemimpin dilaporkan gugur, konflik tetap berjalan tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda,” lanjutnya.
Rizal menjelaskan, fondasi ideologis Iran berkaitan erat dengan pemahaman terhadap risalah kenabian dalam Islam. Ajaran Nabi Muhammad SAW tentang penyempurnaan akhlak, menurutnya, menjadi dasar moral dalam menjaga dan melanjutkan sistem pemerintahan wilayatul faqih.
Dalam kerangka itu, Iran memandang dinamika global, khususnya konflik di kawasan, sebagai bagian dari pertarungan nilai. Tindakan Amerika Serikat dan Israel, termasuk di Palestina, dipersepsikan sebagai bentuk kezaliman yang harus dilawan.
Narasi perlawanan tersebut juga diperkuat oleh rujukan historis dalam tradisi Iran, terutama keteladanan Imam Hussein dalam Pertempuran Karbala yang menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
“Nilai ini kemudian diwujudkan dalam sikap Iran melawan arogansi global dan imperialisme,” jelasnya.
Lebih jauh, Rizal menilai ideologi tersebut telah menyatu dengan karakter bangsa Iran modern yang dikenal tangguh sekaligus memiliki kapasitas intelektual tinggi. Perpaduan ini membuat Iran konsisten menentang zionisme dan aktif mendukung perjuangan Palestina.
Sikap tersebut berimplikasi pada tekanan ekonomi dari negara-negara Barat. Iran terus dikenai sanksi dengan dalih pengembangan program nuklir, meski tuduhan tersebut dinilai belum sepenuhnya terbukti secara konkret.
Namun, tekanan berkepanjangan justru mendorong Iran beradaptasi. Selama hampir lima dekade menghadapi sanksi sejak Revolusi Iran 1979, negara tersebut dinilai mampu membangun kemandirian di sektor ekonomi dan teknologi.
Salah satu indikatornya adalah kemajuan teknologi militer, seperti pengembangan drone Shahed dan rudal berkecepatan tinggi yang diproduksi secara mandiri.
Menurut Rizal, kombinasi antara ideologi yang kuat dan kemandirian teknologi menjadi faktor utama yang membuat Iran tetap bertahan menghadapi tekanan dari AS dan Israel.
Ia menambahkan, peluang kemenangan Iran tidak dapat diukur dengan parameter perang konvensional semata. Berbeda dengan doktrin militer Amerika Serikat yang menargetkan kemenangan cepat, Iran cenderung mengandalkan strategi perang jangka panjang.
Dengan pendekatan asimetris, perang atrisi, serta doktrin pertahanan mosaik, Iran dinilai mampu menciptakan tekanan berkelanjutan terhadap lawannya di berbagai titik.
“Dalam konteks ini, kemenangan tidak selalu berarti mengalahkan secara total, tetapi bertahan lebih lama, melemahkan lawan secara bertahap, dan mengubah keseimbangan kekuatan,” pungkasnya.



