Pengamat: Masalah Utama AS dan Israel adalah Salah Membaca Karakter Negara Iran - Telusur

Pengamat: Masalah Utama AS dan Israel adalah Salah Membaca Karakter Negara Iran

Pengamat Hubungan Internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra. Foto: Istimewa.

telusur.co.id -Pengamat Hubungan Internasional Sentral Politika, Muhammad Rizal Rumra, memprediksi upaya Amerika Serikat (AS) dan Israel akan kembali menemui jalan buntu dalam menggoyang atau meruntuhkan pemerintahan Republik Islam Iran saat ini. 

Menurutnya, Iran masih menjadi salah satu negara paling stabil dan berpengaruh di Timur Tengah meski kerap menghadapi tekanan berlapis sejak Revolusi Islam 1979, seperti sanksi ekonomi, embargo, perang proksi, hingga gelombang demonstrasi besar yang didalangi AS dan Israel baru-baru ini. 

Rizal menilai kegagalan berulang tersebut menunjukkan bahwa kekuatan Iran tidak bisa dibaca semata dari dimensi militer atau ekonomi, melainkan dari fondasi ideologis dan loyalitas politik yang mengakar kuat di dalam negeri, serta jaringan aliansi global yang kian solid.

“Banyak pihak di Barat keliru membaca Iran hanya sebagai negara otoriter yang bisa runtuh lewat tekanan ekonomi atau mobilisasi massa. Padahal, Iran adalah negara ideologis dengan struktur loyalitas yang sangat dalam, dari masyarakat hingga elit kekuasaan,” kata Rizal dalam keterangannya, Sabtu (24/1/2026). 

Menurutnya Revolusi Islam 1979 bukan sekadar peristiwa politik, melainkan transformasi identitas nasional Iran. Ideologi wilayat al-faqih dan narasi perlawanan terhadap hegemoni Barat membentuk konsensus dasar negara yang terus direproduksi lintas generasi.

“Bagi Iran, konflik dengan AS dan Israel bukan isu kebijakan sesaat, tapi bagian dari identitas negara. Narasi anti-imperialisme dan perlawanan terhadap Zionisme telah menjadi bahasa politik sehari-hari negara,” jelasnya.

Ia menambahkan, ideologi ini tidak hanya hidup dalam institusi negara, tetapi juga meresap dalam pendidikan, budaya politik, hingga struktur keamanan seperti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

 

Gelombang demonstrasi besar yang kembali terjadi dalam beberapa tahun terakhir sering dipersepsikan Barat sebagai tanda runtuhnya legitimasi rezim. Namun, Rizal menilai analisis tersebut terlalu simplistik.

“Iran memang menghadapi ketidakpuasan ekonomi, inflasi, dan kesenjangan sosial. Tapi itu tidak otomatis berujung pada delegitimasi negara. Dalam sistem Iran, kritik terhadap pemerintah tidak selalu berarti penolakan terhadap negara atau revolusi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa aparat negara, birokrasi, militer, dan elite politik Iran relatif solid dalam menjaga kesinambungan sistem. Tuduhan infiltrasi agen asing dalam demonstrasi, menurut Rizal, justru sering memperkuat narasi ancaman eksternal dan meningkatkan solidaritas internal.

“Setiap tekanan eksternal justru dipakai rezim untuk mengonsolidasikan loyalitas, dengan framing bahwa Iran sedang diserang kedaulatannya,” tukasnya. 

Di tingkat global, Iran tidak lagi terisolasi seperti dekade-dekade awal pasca-revolusi. Rizal menyoroti menguatnya poros strategis Iran dengan Rusia dan Tiongkok sebagai faktor kunci kegagalan strategi tekanan AS.

“Iran hari ini berada dalam ekosistem geopolitik multipolar. Kerja sama dengan Rusia di bidang militer dan keamanan, serta dengan Tiongkok di sektor energi dan perdagangan, membuat sanksi Barat kehilangan daya hancurnya,” jelas Rizal. 

Ia menilai kemitraan jangka panjang Iran–Tiongkok dan kedekatan Iran–Rusia dalam berbagai konflik regional menunjukkan bahwa Teheran kini menjadi bagian penting dari blok anti-hegemon global.

Sejak 1979, AS dan Israel berulang kali mencoba berbagai pendekatan dari operasi intelijen, perang ekonomi, hingga tekanan diplomatik, namun tidak satu pun berhasil mengganti rezim Iran.

“Masalah utama AS dan Israel adalah kesalahan membaca karakter negara Iran. Mereka mengira Iran bisa diperlakukan seperti negara klien atau negara rapuh, padahal Iran adalah negara perlawanan dengan memori kolektif panjang terhadap intervensi asing,” kata Rizal.

Menurutnya, konflik terbaru antara Iran dengan AS dan Israel justru memperkuat posisi Iran di mata sekutu-sekutunya, sekaligus meningkatkan legitimasi regional Teheran sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi Barat.

Rizal menyimpulkan bahwa ketahanan Iran selama hampir setengah abad membuktikan bahwa kekuatan negara tidak selalu ditentukan oleh demokrasi liberal atau dukungan Barat, melainkan oleh konsistensi ideologi, kohesi elite, dan kemampuan membangun aliansi strategis.

“Selama fondasi ideologi dan loyalitas internal Iran tetap utuh, selama itu pula upaya menggulingkan Iran dari luar akan terus gagal,” pungkasnya.


Tinggalkan Komentar