telusur.co.id - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyerukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meminta maaf atas pernyataannya yang meremehkan peran pasukan Eropa dalam perang Afghanistan. Pernyataan ini menjadi teguran langsung yang jarang terjadi terhadap seorang presiden AS.
Starmer menyebut komentar Trump yang disampaikan kepada Fox News, bahwa sekutu NATO tetap “sedikit jauh dari garis depan” di Afghanistan, sebagai “menghina dan terus terang mengerikan.” Ia menegaskan bahwa pernyataan itu tidak menghargai pengorbanan sekutu.
“Jika saya salah bicara atau mengatakan kata-kata itu, saya pasti akan meminta maaf,” ujar Starmer ketika ditanya apakah ia mengharapkan permintaan maaf dari Trump. Perdana Menteri Inggris juga memberikan penghormatan kepada 457 personel Inggris yang gugur setelah bergabung dalam invasi pimpinan AS ke Afghanistan pada 2001, menyusul serangan 11 September.
Namun, Gedung Putih menolak kritik Starmer terhadap Presiden Trump. “Presiden Trump benar sekali — Amerika Serikat telah berbuat lebih banyak untuk NATO daripada gabungan semua negara anggota aliansi lainnya,” kata juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers dalam pernyataan resmi yang dikirim ke kantor berita AFP.
Komentar Trump muncul beberapa hari setelah ia menarik ancaman mengenakan tarif terhadap beberapa negara Eropa yang menentang tuntutannya agar AS mengambil alih Greenland, wilayah semi-otonom Denmark. Saat berbicara di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Trump menyatakan ketidakpercayaannya terhadap NATO, dengan mengatakan, “Kita tidak pernah membutuhkan mereka, kita tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka.”
Pernyataan Trump ini memicu respons keras dari sekutu Eropa, sekaligus menyoroti ketegangan diplomatik transatlantik yang terus berlangsung di tengah agenda global seperti Forum Ekonomi Dunia di Davos. [ham]




