telusur.co.id -Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkapkan aksi kerusuhan yang terjadi di negaranya baru-baru ini merupakan kelanjutan dari rangkaian kejahatan yang dilakukan rezim Zionis terhadap negaranya.
Mulanya, Boroujerdi mengatakan, kekalahan yang diderita rezim Zionis dalam perang 12 hari terhadap Iran pada, Juni 2025 lalu, telah memaksa mereka untuk menggunakan strategi penghancuran Iran dari dalam dengan membuat kekacauan yang dimotori oleh para teroris.
Dengan strategi pengecut itu, rezim Zionis berupaya untuk menggulingkan kepemimpinan yang sah di Iran, hingga akhirnya kembali gagal.
"Strategi berikut yang dilancarkan oleh rezim Zionis Israel terhadap negara kami adalah mengupayakan makar dari dalam negara kami, yaitu pertama melalui menciptakan protes dan kerusuhan-kerusuhan di antara masyarakat," kata Boroujerdi dalam konferensi pers di Kediaman Resminya di Jalan Madiun, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2026).
Boroujerdi juga mengatakan bahwa rezim Zionis berpikir dengan melakukan pembunuhan terhadap para pejabat dan petinggi militer serta menyerang basis militer Iran akan memberikan kemenangan bagi mereka.
"Mereka berpikir bahwa perang ini bisa diselesaikan hanya dengan beberapa jam melakukan peneroran atau pembunuhan terhadap pejabat politik, pemimpin politik, pejabat militer dan menyerang basis militer dan pertahanan negara kami," ucapnya.
Namun, setelah beberapa hari berperang dengan Iran, pihak Israel justru mulai memohon ketakutan kepada Amerika Serikat (AS) agar bisa menciptakan sebuah gencatan senjata dengan Iran karena mereka sadar tak akan mampu menang dalam perang yang dipakaskan oleh rezim Zionis.
"Setelah belasan hari rezim Zionis Israel baru menyadari bahwa Iran merupakan negara yang tidak mudah dikalahkan maka ia mulai memohon-mohon kepada majikannya yaitu Amerika Serikat agar bisa menciptakan sebuah genjatan senjata," ungkapnya.
Selain itu, rezim Zionis kata Dia, juga mengerahkan upaya untuk menjatuhkan nilai mata uang Iran dan kerap membuat propaganda murahan terkait ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Iran.
"Mereka mendorong agar nilai mata uang nasional Iran terjun bebas dan menyebarluaskan ketidakpuasan di negara kami dengan sebuah tujuan yaitu menggantikan pemerintah negara kami dan rezim yang berkuasa," tuturnya.
"Downnya nilai mata uang Iran yang mana ini berakibat dari kebijakan dan tekanan ekonomi yang selama ini diberikan oleh Amerika Serikat terhadap negara kami," tambahnya mengungkapkan.
Lebih jauh, Boroujerdi juga mengungkapkan, bahwa rezim Zionis selalu melakukan penyerangan terhadap negara lain di Asia Barat dan melancarkan hegemoninya di kawasan untuk dapat menundukkan negeri para mullah itu.
"Selama 47 tahun berupaya dengan berbagai cara agar dapat menundukkan pemerintah Republik Islam Iran atas dukungan Amerika Serikat," imbuhnya.




