telusur.co.id -Presiden Iran Masoud Pezeshkian memastikan, pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap kepala Organisasi Basij dan rekan-rekannya “tidak akan dibiarkan begitu saja,” dan akan semakin meningkatkan tekad bangsa Iran.
Dalam sebuah pesan pada hari Rabu (18/3/2026, Pezeshkian menyampaikan belasungkawa atas gugurnya "komandan pemberani" Brigadir Jenderal Gholamreza Soleimani Farsani, bersama pejabat lainnya, dalam serangan "teroris" Israel.
Pezeshkian mencatat bahwa Soleimani dengan gagah berani bertugas di garis depan selama perang yang dipaksakan Irak terhadap Iran pada tahun 1980-1988 dan ikut dalam semua arena perlawanan serta "selalu siap untuk mati syahid".
"Ia kini telah mencapai aspirasi yang telah lama diidamkannya. Merupakan ilusi palsu dari rezim Zionis yang tidak manusiawi dan teroris bahwa tindakan jahat seperti itu dapat melemahkan tekad bangsa Iran,” tegasnya, dikutip dari Presstv.
“Tidak diragukan lagi bahwa darah para martir terkasih ini tidak akan sia-sia, dan kemartiran mereka akan membangkitkan semangat revolusioner dengan motivasi yang lebih besar,” tambah Pezeshkian.
Dalam pernyataan terpisah sebelumnya pada hari Rabu, Pezeshkian juga menyampaikan belasungkawa atas gugurnya pejabat keamanan tinggi Dr. Ali Larijani dan rekan-rekannya.
Pezeshkian menggambarkannya sebagai "saudara yang berbudi luhur, berharga, dan terkasih."
"Beliau adalah tokoh yang luar biasa dan berharga yang, sepanjang era Republik Islam, mengabdi dalam berbagai kapasitas, menghasilkan hasil yang luas dan beragam. Selama kolaborasi panjang kami di Majelis Permusyawaratan Islam dan masa jabatannya baru-baru ini sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, saya hanya menyaksikan niat baik, wawasan yang tajam, persahabatan, dan pandangan jauh ke depan darinya," tulis Pezeshkian dalam pesan tersebut.
Pezeshkian memperingatkan akan adanya konsekuensi berat bagi para pelaku kejahatan mengerikan tersebut.
"Tidak diragukan lagi, pembalasan yang berat menanti para penjahat teroris yang telah menodai tangan kotor mereka dengan darah para martir yang tidak bersalah, namun berani dan teguh, dari tanah suci Iran selama agresi teroris baru-baru ini," ia memperingatkan.
Amerika Serikat dan Israel memulai babak baru agresi udara terhadap Iran pada 28 Februari, sekitar delapan bulan setelah mereka melakukan serangan tanpa provokasi terhadap negara tersebut.
Serangan-serangan tersebut menyebabkan gugurnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.
Iran mulai dengan cepat membalas serangan tersebut dengan melancarkan rentetan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke wilayah yang diduduki Israel serta ke pangkalan dan kepentingan AS di negara-negara regional.[Nug]



