telusur.co.id -Anggota Exco PSSI Vivin Cahyani Sungkono mengapresiasi kontribusi Yayasan Bakti Olahraga Djarum dalam membangun ekosistem sepak bola putri Indonesia, khususnya pada level akar rumput.
Menurut Vivin, pembinaan yang dilakukan Yayasan Bakti Olahraga Djarum melalui berbagai kompetisi sepak bola putri usia dini memberikan dampak besar terhadap bertambahnya jumlah pemain muda yang terdata dan berpotensi dikembangkan menjadi talenta masa depan Timnas Putri Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Vivin di tengah gelaran Srikandi Merdeka Cup yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, pada 14-23 Agustus 2026. Turnamen tersebut menjadi salah satu panggung bagi pemain putri usia U-16 untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus menjadi bagian dari proses pembinaan berjenjang.
"PSSI mengucapkan rasa terima kasih dan syukur yang sangat mendalam kepada Yayasan Bakti Olahraga Djarum, terutama yang memang selama tiga tahun terakhir ini fokus membina akar rumput sepak bola wanita di Indonesia," ujar Vivin dalam konferensi pers, di Menara Mandiri, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Ia menilai hasil pembinaan tersebut mulai terlihat, salah satunya dari semakin banyaknya pemain sepak bola putri usia muda yang berhasil teridentifikasi. Kompetisi yang digelar untuk kelompok usia 8 hingga 16 tahun dinilai membantu menciptakan basis data pemain putri yang sebelumnya belum dimiliki secara optimal.
"Kita sudah bisa lihat sendiri hasilnya bahwa kompetisi yang dijalankan ini mulai dari usia 8 sampai usia 16 tahun, dan dari kita belum punya data berapa jumlah pemain putri usia grassroot, sekarang kita sudah kumpulkan 50.000 pemain dalam waktu tiga tahun," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, keberadaan kompetisi akar rumput seperti MilkLife Soccer Challenge dan Hydro Plus menjadi bagian penting dalam memperluas jangkauan pembinaan sepak bola putri di Indonesia.
"Jadi yang tadinya kita itu benar-benar nggak punya data, tapi dengan bantuan Yayasan Bakti Olahraga Djarum melalui kompetisinya Milklife Soccer Challenge dan Hydro Plus, kita bisa kumpulkan 50.000 anak usia 8 sampai 16 tahun yang bermain sepak bola di Indonesia," tutur Vivin.
Wanita yang menjadi Ketua Komite Sepak Bola Wanita PSSI ini yakin semakin banyaknya pemain yang teridentifikasi akan memperbesar talent pool Timnas Putri Indonesia. Kondisi tersebut juga membuka peluang lebih besar bagi PSSI untuk melakukan pemantauan dan pembinaan pemain sejak usia dini secara berkelanjutan.
"Yang lebih penting lagi bahwa kita bisa lihat perkembangan Timnas semakin hari semakin baik, talent pool semakin besar," tuturnya.
Vivin menyebut Srikandi Merdeka Cup menjadi salah satu bukti bahwa pembinaan sepak bola putri mulai menghasilkan lebih banyak pilihan pemain bagi tim nasional. Pada turnamen ini, Indonesia menurunkan dua tim U-16, yakni Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara.
"Karena sekarang baru pertama kali kita turunkan itu dua layer Timnas Indonesia U-16, Garuda Pertiwi dan Putri Nusantara di Srikandi Merdeka Cup," ujar Vivin.
Garuda Pertiwi sendiri menunjukkan performa positif sepanjang fase grup Srikandi Merdeka Cup. Tim asuhan Timo Scheunemann tersebut berhasil memastikan tiket ke semifinal setelah menjadi juara Grup A.
Pencapaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa kompetisi usia muda tidak hanya berfungsi sebagai ajang pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pencarian dan pematangan pemain untuk kebutuhan Timnas Putri Indonesia di masa mendatang.
Dengan semakin luasnya kompetisi di level akar rumput serta bertambahnya jumlah pemain yang terdata, PSSI berharap regenerasi sepak bola putri Indonesia dapat berjalan lebih konsisten dan berkelanjutan.



