telusur.co.id - Brigadir Jenderal Ebrahim Jabari, penasihat komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), menegaskan penutupan jalur air vital Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, sebagai bentuk tekanan terhadap Amerika Serikat.
“Harga minyak telah mencapai $81, dan dunia tentu menunggu setidaknya mencapai $200. Selat Hormuz ditutup. Para pahlawan kita di Angkatan Laut dan Angkatan Darat IRGC akan membakar kapal-kapal yang ingin melewati selat ini,” ujar Jabari di televisi pemerintah.
Ia menambahkan, IRGC juga akan menargetkan pipa minyak di wilayah tersebut dan tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan itu sampai tujuan mereka tercapai. “Amerika memiliki utang ratusan ribu miliar dolar dan haus akan minyak di wilayah ini. Mereka tidak akan mendapatkan setetes pun,” tegasnya.
aljazeera



