Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-anak Sekolah Dalam Perang Iran Israel Itu? - Telusur

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-anak Sekolah Dalam Perang Iran Israel Itu?

Ilustrasi AI by Denny JA; “Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-anak Sekolah - Dalam Perang Iran Israel Itu?”

telusur.co.idOleh : Denny JA

(Akhir Februari 2026, sekolah SD putri di Minab, Iran, terkena serangan misil. Sekitar 165 sampai 180 anak perempuan usia 7 sampai 12 tahun tewas seketika. Para ibu menangis di kuburan massal.)

Di antara debu yang masih hangat,
Ibu Fatimah menemukan tas kecil berwarna biru.

Tas itu hadiah ulang tahun.
Resletingnya masih mengkilap
seperti mata anak yang belum sempat mengenal dunia.

Ia memeluk tas itu
seperti memeluk langit yang baru saja runtuh.
Ia sebut nama putrinya berkali- kali:
“Yasmin, Yasmin,
Jangan tinggalkan Ibu, anakku.”

Kepada khalayak yang ikut menangis, Ibu Fatima bercerita, cerita apa saja soal Yasmin anaknya:

“Anakku mencintai puisi,” katanya sambil menangis. Air matanya tumpah menjadi sungai.

“Setelah Lebaran nanti kami akan pergi ke Konya,
berziarah ke makam Jalaluddin Rumi.”

Putrinya sering membaca bait-bait cinta
yang ditulis delapan abad lalu.

Ia percaya puisi dapat menyembuhkan dunia.

Kini tas itu sunyi.
Buku-bukunya berdebu
menjadi sayap burung yang patah.

28 Februari 2026.

Sekolah putri Shajareh Tayyebeh di Minab berubah menjadi reruntuhan.

Tiga misil turun dari langit
menjadi palu besi yang menghantam bumi.

Atap runtuh.
Dinding retak.
Ruang kelas berubah serupa liang tanah.

Seratus delapan puluh anak
usia tujuh sampai dua belas
terkubur bersama kapur tulis,
gambar apel di dinding kelas,
dan mimpi menjadi dokter, penyair, guru.

Para ibu berdiri di kuburan massal
bagai  pohon yang akarnya dipatahkan badai.

Tangisan mereka
naik ke langit
terbang menjadi burung yang kehilangan arah pulang.

Padahal Iran dan Israel
lahir dari sungai peradaban yang panjang.

Di tanah Persia dahulu
para penyair menulis tentang cinta kosmik.
Di tanah Yerusalem
para nabi berbicara tentang keadilan Tuhan.

Dua bangsa ini
pernah menjadi samudra  pengetahuan,
bertukar kisah tentang bintang dan kitab suci.

Sejarah pernah menulis mereka sebagai sahabat.

Namun sejarah juga pandai berubah menjadi pedang.

Kini langit Timur Tengah
sering berwarna api.

Dan api tidak pernah pandai membedakan
tentara
dan anak sekolah.

Di antara serpihan kapur dan serpih jendela,  nama-nama mereka melayang tanpa kelas, tanpa absen.  

Hanya angin yang menghafal suara mereka,   menyimpannya pelan  
di sela doa dan puing.

Anak-anak itu tidak mengerti
mengapa dunia orang dewasa
begitu mudah memanggil perang.

Bagi mereka perang hanyalah kata
dalam buku sejarah.

Namun pagi itu
perang turun dari langit
dan menulis dirinya sendiri
di tubuh kecil mereka.

Seorang gadis sedang menggambar bunga
ketika ledakan pertama datang.

Kepala sekolah memindahkan beberapa murid
ke ruang doa.

Telepon berdering.
Cepat jemput anak-anak.

Namun misil kedua datang
seperti jawaban yang terlambat.

Lalu yang ketiga.

Langit pagi berubah menjadi palu.

Para relawan menggali reruntuhan
dengan tangan telanjang.

Debu menempel di wajah mereka
seperti abu dari masa depan yang terbakar.

Seseorang mengangkat buku tulis
yang bercak darahnya belum kering.

“Ini buku anakku,” teriaknya.

“Di halaman ini ia belajar menulis kata damai.”

Kini kata itu
terkubur di bawah beton.

Dan dunia pun bertanya
dengan suara yang retak.

Bagaimana mungkin manusia
yang mencipta puisi,
menemukan bintang,
membangun perpustakaan dan kitab suci,

masih mampu menjatuhkan bom
ke ruang kelas anak-anak.

Bagaimana mungkin peradaban
yang menulis hukum dan moral
masih menyimpan racun kehancuran
di jantungnya sendiri.

Di reruntuhan sekolah itu
sebuah tas kecil menjawab pelan.

Ia tidak berbicara dengan kata.
Ia berbicara dengan sunyi.

Sunyi yang berat
seperti bumi yang kehilangan musim semi.

Tas itu seakan berkata.

Yang mati bukan hanya anak-anak.

Yang mati adalah masa depan
yang belum sempat menulis namanya sendiri.

Yang mati adalah puisi
yang belum sempat dilafalkan.

Yang mati adalah perjalanan ke Konya
yang tidak pernah terjadi.

Dan mungkin
yang mati juga
sepotong kecil kemanusiaan
di dalam diri.

Di atas nisan-nisan mungil, sejarah mendadak bisu;
Tak ada ideologi yang lebih suci dari tawa anak-anak,
Tak ada kemenangan yang lebih besar dari nyawa,
Sebab setiap bom, sejatinya menghancurkan nurani semesta.

*Penulis adalah Konsultan Politik, Founder LSI-Denny JA, Penggagas Puisi Esai, Sastrawan, Ketua Umum SATUPENA, Penulis Buku, dan Komisaris Utama PT. Pertamina Hulu Energi (PHE).


Tinggalkan Komentar