SWH Ingatkan Dampak Sampah Sungai terhadap Kesehatan dan Ekosistem - Telusur

SWH Ingatkan Dampak Sampah Sungai terhadap Kesehatan dan Ekosistem

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Sri Wahyuni Herman (SWH)

telusur.co.id - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi Partai NasDem, Sri Wahyuni Herman (SWH), mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap persoalan sampah di bantaran sungai sebagai persoalan sepele. Selain mengganggu kebersihan lingkungan, pencemaran sungai dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat dan keberlangsungan ekosistem.

Hal tersebut disampaikan SWH saat melaksanakan kegiatan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan di Desa Bojongslawi, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jumat, 21 Agustus 2026.

Menurut SWH, sampah yang menumpuk di bantaran sungai memiliki dampak berantai. Ketika sampah masuk dan menumpuk di sekitar aliran air, kondisi tersebut dapat menghambat aliran sungai, menimbulkan bau tidak sedap, serta menciptakan lingkungan yang berpotensi menjadi tempat berkembangnya berbagai penyakit.

“Persoalan sampah di sungai bukan hanya soal lingkungan terlihat kotor. Ada dampak terhadap kesehatan masyarakat dan ekosistem yang harus kita perhatikan bersama,” ujar SWH.

Ia menjelaskan, lingkungan sungai memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Ketika kualitas lingkungan sungai menurun akibat pencemaran, masyarakat juga berpotensi merasakan dampaknya secara langsung.

Selain persoalan kesehatan, SWH menyoroti ancaman terhadap ekosistem sungai. Sampah dan pencemaran yang terus dibiarkan dapat mengganggu kondisi lingkungan sungai serta kehidupan berbagai organisme yang berada di dalamnya.

Karena itu, menurut SWH, menjaga kebersihan sungai harus dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

Ia mendorong masyarakat untuk tidak menjadikan bantaran sungai sebagai tempat membuang sampah. Kebiasaan tersebut, kata dia, perlu dicegah melalui kesadaran bersama mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas.

“Kita harus melihat sungai sebagai bagian dari kehidupan kita. Kalau sungainya tercemar, dampaknya juga akan kembali kepada masyarakat. Karena itu, menjaga sungai berarti menjaga kesehatan dan lingkungan kita sendiri,” katanya.

SWH menilai upaya menjaga kebersihan sungai juga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan, sementara masyarakat dapat berperan melalui kebiasaan menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Menurutnya, pencegahan akan jauh lebih baik daripada menunggu pencemaran semakin parah atau dampaknya mulai dirasakan masyarakat.

Ia berharap kepedulian terhadap lingkungan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat Desa Bojongslawi dan wilayah lainnya. Dengan kesadaran yang dibangun secara bersama-sama, sungai diharapkan tetap menjadi bagian dari lingkungan yang sehat dan mampu mendukung kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.

“Lingkungan yang sehat tidak lahir dalam satu hari. Ia dibangun dari kebiasaan dan kepedulian yang dilakukan bersama-sama. Mari kita jaga sungai hari ini agar tetap sehat untuk masyarakat dan generasi yang akan datang,” pungkas SWH. (VC)


Tinggalkan Komentar