telusur.co.id -Tren pola makan intermittent fasting kini tengah populer karena diklaim efektif dalam menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik. Meski sekilas tampak serupa dengan ibadah puasa Ramadan yang dijalankan umat Muslim, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari segi tujuan hingga penerapan aturan gizinya.
Wakil Dekan III Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), Mahmud Aditya Rifqi, S.Gz., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa perbedaan utama terletak pada landasan pelaksanaannya. Jika puasa Ramadan berfokus pada dimensi ibadah, intermittent fasting umumnya diterapkan untuk tujuan klinis seperti pengaturan berat badan atau perbaikan metabolisme.
Secara teknis, kedua metode ini memang menerapkan konsep time-restricted eating atau pengaturan jendela makan. Di Indonesia, durasi puasa Ramadan berlangsung sekitar 13 hingga 14 jam, di mana penganutnya dilarang keras mengonsumsi makanan maupun minuman dalam bentuk apa pun.
Sebaliknya, intermittent fasting memiliki variasi pola yang lebih fleksibel, seperti metode 16:8 (16 jam puasa dan 8 jam waktu makan), pola 5:2, hingga one meal a day (OMAD). Tingkat keketatannya pun berbeda; pada intermittent fasting, seseorang masih diperbolehkan mengonsumsi air putih atau minuman tanpa kalori seperti kopi hitam tanpa gula selama periode puasa.
Dari sudut pandang ilmu gizi, Mahmud menekankan bahwa tubuh manusia memerlukan waktu sekitar 3 hingga 6 jam untuk mencerna makanan dan memiliki ritme biologis alami. Karbohidrat yang dikonsumsi akan disimpan sebagai glikogen dan dipecah kembali menjadi glukosa saat tubuh membutuhkan energi tambahan.
Mahmud mengakui bahwa kedua jenis puasa ini dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin yang baik untuk pengendalian gula darah. Namun, ia memperingatkan pentingnya memperhatikan Angka Metabolisme Basal (Basal Metabolic Rate/BMR) agar organ vital tetap berfungsi optimal.
"Jika asupan kalori terus-menerus berada di bawah kebutuhan minimal, tubuh bisa mengalami defisit energi yang berbahaya. Awalnya lemak memang terbakar, tetapi jika berlanjut, tubuh dapat menggunakan protein otot sebagai sumber energi. Ini dapat menurunkan massa otot," paparnya.
Oleh karena itu, dalam praktik intermittent fasting, pengurangan asupan kalori sebaiknya dilakukan secara bertahap, yakni berkisar 300 hingga 500 kkal dari kebutuhan harian, dan tidak boleh jatuh di bawah batas minimal kebutuhan tubuh. Sementara itu, untuk puasa Ramadan, Mahmud menyarankan agar masyarakat tidak sekadar menggeser waktu makan ke malam hari dalam jumlah yang berlebihan. Konsumsi makanan dalam porsi besar secara mendadak saat berbuka justru dapat membebani sistem pencernaan dan mengganggu metabolisme.
Sebagai kiat menjaga kesehatan selama Ramadan, ia menyarankan pola makan yang seimbang dengan satu kali makan utama setelah berbuka dan sahur yang mencukupi. Pemenuhan cairan minimal delapan gelas sehari tetap wajib dilakukan dengan pembagian waktu saat berbuka, malam hari, dan sahur. Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur dan buah juga sangat dianjurkan untuk memberikan rasa kenyang lebih lama serta menjaga stabilitas energi.
"Puasa Ramadan adalah momen ibadah, tetapi dari sisi kesehatan juga bisa menjadi kesempatan memperbaiki pola makan. Kuncinya ada pada pengaturan yang seimbang dan sesuai kebutuhan tubuh," pungkas alumnus Universitas Airlangga tersebut.



