telusur.co.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan bahwa dirinya telah meminta pemimpin Israel, Benjamin Netanyahu, untuk tidak lagi menargetkan fasilitas energi milik Iran dalam rangkaian operasi militer yang tengah berlangsung.
“Ya, saya telah memperingatkannya agar tidak melakukan hal itu, dan ia tidak akan melakukannya,” ujar Trump kepada wartawan, Kamis (19/3).
Trump juga menegaskan bahwa hubungan dirinya dengan Netanyahu tetap berjalan baik di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, laporan dari kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa Israel dan Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap fasilitas energi Iran, termasuk ladang gas South Pars—yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia—serta kawasan industri Asaluyeh yang menjadi pusat pengolahan gas.
Akibat serangan tersebut, kebakaran dilaporkan terjadi di Asaluyeh setelah tangki penyimpanan dan fasilitas pengolahan mengalami kerusakan.
Namun, Trump menyatakan bahwa pemerintah AS tidak mengetahui rencana serangan tersebut sebelumnya, meskipun kedua negara diketahui terlibat dalam operasi militer terhadap Iran sejak 28 Februari.
Konflik yang terus meningkat ini telah menyebabkan kerusakan luas dan korban sipil, termasuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta sejumlah target militer AS di kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat dan Israel menyebut operasi militer tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, keduanya juga mengisyaratkan adanya keinginan untuk mendorong perubahan rezim di negara tersebut.
Situasi ini semakin meningkatkan kekhawatiran global, terutama terkait dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan pasokan energi dunia. [ham]



