telusur.co.id - Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) secara tegas membantah tuduhan terkait penemuan senjata, bahan peledak, dan dugaan fasilitas penahanan rahasia di Bandara Al-Rayyan, Mukalla, Yaman. Tuduhan itu sebelumnya dilontarkan oleh Gubernur Hadramout, Salem al-Hanbashi, yang menuduh UEA terlibat dalam operasi militer ilegal dan penahanan tanpa proses hukum.
Dalam pernyataannya yang dirilis pada Senin, Kementerian Pertahanan UEA menyebut tuduhan tersebut “tidak berdasar, menyesatkan, dan bertujuan memutarbalikkan fakta.” UEA menekankan bahwa mereka telah menyelesaikan penarikan penuh dari Yaman pada 3 Desember 2025, termasuk transfer seluruh peralatan militer, senjata, dan aset teknis, sehingga tidak ada lagi kehadiran militer atau logistik UEA di wilayah tersebut.
Menanggapi tuduhan tentang penjara rahasia, Kementerian Pertahanan UEA menegaskan bahwa fasilitas yang dimaksud hanyalah barak militer standar, ruang operasi, dan tempat perlindungan yang diperkuat, beberapa di antaranya berada di bawah tanah—hal umum di bandara dan instalasi militer di seluruh dunia.
Sebelumnya, Salem al-Hanbashi, yang juga anggota Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, mengklaim bahwa pemerintah menemukan penjara rahasia yang dikelola UEA di provinsi Hadramout bagian timur. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengambil “semua tindakan yang diperlukan” terhadap UEA dan Dewan Transisi Selatan (STC) untuk “mencapai keadilan bagi para korban,” tanpa memberikan bukti rinci.
Tuduhan ini muncul di tengah memburuknya hubungan antara Riyadh dan Abu Dhabi terkait pengaruh di Yaman selatan. Para pejabat Saudi menuduh faksi-faksi yang didukung UEA, khususnya STC, memajukan agenda yang mengancam keamanan nasional Arab Saudi. Pada bulan Desember, pasukan yang berafiliasi dengan STC memperluas jangkauan mereka di beberapa provinsi selatan, termasuk wilayah yang dianggap sensitif oleh Riyadh, memicu serangan udara Saudi terhadap pengiriman yang terkait UEA. Balasan cepat oleh unit yang bersekutu dengan Saudi berhasil membalikkan kemajuan STC.
Keretakan ini menyoroti ketegangan yang mendalam dalam koalisi yang telah mendominasi politik dan keamanan Yaman sejak intervensi militer pada 2015. Pasukan “Perisai Nasional” yang didukung Arab Saudi kini telah dikerahkan di seluruh provinsi Aden, sementara Dewan Kepemimpinan Kepresidenan berupaya merebut kembali kamp dan instalasi yang sebelumnya dikuasai STC. Situasi ini memperlihatkan fragmen politik yang kompleks dan risiko meningkatnya konflik internal di Yaman. [ham]




