Fenomena Konsumerisme Penggemar Makin Marak, Dosen UNAIR Dorong Konsumsi Bijak

by Arianto Deni |
Fenomena Konsumerisme Penggemar Makin Marak, Dosen UNAIR Dorong Konsumsi Bijak
Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Pingkan Sekar Savira, S.Sosio., M.Sosio., Foto: Istimewa.

Mengidolakan figur publik kini tidak lagi sebatas menikmati karya atau mengikuti aktivitas sang idola. Di tengah perkembangan media sosial dan industri hiburan, kekaguman terhadap figur publik juga dapat memengaruhi pola konsumsi penggemar.

Mulai dari membeli merchandise, mengikuti gaya hidup idola, hingga mengoleksi barang yang pernah digunakan atau berkaitan dengan sang idola menjadi bagian dari perilaku sebagian penggemar.

Jika tidak dikendalikan, perilaku tersebut berpotensi berkembang menjadi konsumsi berlebihan dan mendorong seseorang masuk ke dalam lingkaran konsumerisme.

Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Pingkan Sekar Savira, S.Sosio., M.Sosio., mengatakan perilaku konsumtif penggemar tidak muncul tanpa sebab. Terdapat sejumlah faktor psikologis dan sosial yang dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam membeli produk yang berkaitan dengan idolanya.

Menurut Pingkan, salah satu faktor yang mendorong perilaku konsumtif adalah keinginan menunjukkan identitas sosial atau social identity.

Penggemar dapat membeli produk tertentu sebagai bentuk ekspresi diri sekaligus menunjukkan afiliasi dengan komunitas penggemar atau fandom.

Selain identitas sosial, fenomena social proof dan Fear of Missing Out (FOMO) juga dapat memperkuat perilaku konsumtif.

Konten di media sosial yang memperlihatkan penggemar membeli koleksi tertentu, memperoleh tiket konser, atau memiliki produk eksklusif dapat mendorong penggemar lain melakukan hal serupa.

Dorongan tersebut semakin kuat ketika penggemar memiliki hubungan parasosial (parasocial relationship) dengan idolanya. Hubungan tersebut merupakan ikatan emosional satu arah yang dirasakan seseorang terhadap figur publik.

“Banyak faktor yang memengaruhi perilaku tersebut. Mulai dari keinginan menunjukkan identitas sosial hingga jebakan dari strategi pemasaran industri yang kapitalis. Ketika penggemar tidak memiliki self-control, konsumtivitas tersebut bahkan bisa mengarah pada pembelian impulsif,” ujar Pingkan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan konsumsi tidak selalu didasarkan pada kebutuhan. Faktor emosional, lingkungan sosial, strategi pemasaran, hingga dorongan untuk menjadi bagian dari komunitas dapat ikut memengaruhi perilaku penggemar.

Pingkan menjelaskan, batas antara mengagumi idola dan perilaku konsumtif yang berlebihan dapat dilihat dari kemampuan seseorang mengendalikan keputusan pembelian.

Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai memaksakan diri secara finansial demi mendapatkan barang yang berkaitan dengan idolanya.

Kondisi menjadi semakin bermasalah apabila pembelian merchandise atau produk idola mulai mengesampingkan kebutuhan pokok, bahkan membuat seseorang mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jika perilaku konsumsi tersebut sudah terasa menyiksa, menuntut hal di luar batas kemampuan materiil, dan mengganggu pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, di situlah seseorang telah kehilangan kontrol diri,” tegasnya.

Karena itu, menurut Pingkan, menjadi penggemar tidak harus selalu diwujudkan melalui kepemilikan barang atau kemampuan membeli seluruh produk yang berkaitan dengan idola.

Kecintaan terhadap figur publik juga dapat diekspresikan melalui cara lain yang tidak membebani kondisi keuangan maupun kehidupan sehari-hari.

Untuk mencegah perilaku konsumtif berkembang menjadi masalah finansial maupun psikologis, Pingkan mendorong penggemar melakukan refleksi sebelum mengambil keputusan pembelian.

Salah satunya dengan membedakan apakah barang yang ingin dibeli benar-benar merupakan kebutuhan (needs), sekadar keinginan (wants), atau muncul karena dorongan FOMO.

Kesadaran tersebut penting agar keputusan konsumsi tidak semata-mata dipengaruhi tren atau tekanan dari lingkungan pertemanan dan komunitas penggemar.

Pingkan juga mengingatkan pentingnya menempatkan kebutuhan dasar sebagai prioritas, terutama di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

“Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi saat ini, sangat penting bagi kita untuk bersikap lebih bijak. Fokuskan konsumsi pada kebutuhan dasar terlebih dahulu dan bangun kesadaran bahwa menjadi penggemar seharusnya membawa kenyamanan dan kesenangan, bukan beban finansial,” pungkasnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya penggemar dan perilaku konsumsi memiliki hubungan yang semakin erat. Karena itu, kemampuan mengendalikan diri dan memahami kebutuhan menjadi bagian penting agar aktivitas sebagai penggemar tetap memberikan pengalaman positif tanpa berubah menjadi tekanan finansial.

Komentar

Berita Terkait